GridOto.com - Buat masyarakat Jawa Tengah, pasti tak asing dengan yang namanya nama Tol Semarang ABC.
Namun, masih banyak yang belum paham alasan ruas tol tersebut menggunakan nama "ABC".
Ternyata, penyebutan Tol Semarang ABC bukanlah sekadar nama populer.
Dirangkum dari informasi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), istilah tersebut berasal dari pembagian tiga bagian utama yang membentuk jaringan jalan tol tersebut.
Melansir Kompas.com, jalan Tol Semarang ABC mulai beroperasi pada 1983 dan menjadi jalan tol kedua yang hadir di Indonesia setelah Jalan Tol Jagorawi.
Dengan total panjang mencapai 24,75 kilometer, ruas tol ini memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas masyarakat serta distribusi barang di wilayah ibu kota Jawa Tengah itu.
Baca Juga: Sering Jadi Ajang Adu Nyali, Pahami Batas Kecepatan di Jalan Tol
Nama "ABC" diambil dari tiga seksi utama yang menyusun ruas tol tersebut, yaitu:
Seksi A (Manyaran)
Seksi B (Srondol)
Seksi C (Kaligawe)
Ketiga seksi itu kemudian terhubung melalui Simpang Susun (SS) Jangli.
Dari titik pertemuan tersebut, akses menuju berbagai kawasan di Kota Semarang menjadi lebih mudah dan cepat.
Karena terbagi menjadi Seksi A, B, dan C, masyarakat pun lebih praktis menyebutnya sebagai Tol Semarang ABC.
Jalan tol ini memiliki posisi strategis karena menghubungkan jalur utama Pantai Utara (Pantura) Jawa dengan sejumlah jalur nasional menuju wilayah seperti Purwodadi, Yogyakarta, dan Solo.
Baca Juga: Tanah Masuk Daftar Gusur Proyek Jalan Tol Baru, Pemilik Dipersilakan Tuntut Hak-hak Berikut
Ruas ini juga menjadi bagian dari jaringan Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan berbagai daerah di Pulau Jawa.
Dari sisi konektivitas, Tol Semarang ABC memiliki hubungan langsung dengan sejumlah ruas penting.
Di bagian selatan, tol ini tersambung dengan Jalan Tol Semarang-Solo, sementara di sisi barat terhubung dengan Jalan Tol Semarang-Batang.
Keterhubungan tersebut membuat Tol Semarang ABC menjadi salah satu jalur vital bagi kendaraan pribadi maupun angkutan logistik yang melintas di Jawa Tengah.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR