Dalam kondisi normal, mobil listrik hanya bisa didorong jika sudah berada di posisi netral (N).
Namun, untuk memindahkan ke posisi tersebut, sistem harus dalam kondisi menyala.
“Kalau tidak ada power, tidak ada cara cepat untuk melepas penguncian. Jadi mobil tetap terkunci,” katanya melansir Kompas.com.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, penggunaan jump starter atau jump pack menjadi langkah awal yang umum dilakukan.
Dengan mengalirkan daya sementara ke aki 12V, sistem kendaraan bisa kembali aktif meskipun mesin tidak menyala sepenuhnya. Hal ini memungkinkan transmisi dipindahkan ke posisi netral.
“Biasanya petugas akan coba jump start dulu. Walaupun mobil belum tentu bisa hidup, setidaknya bisa di-shift ke N supaya bisa dipindahkan,” ujar Mahaendra.
Di berbagai negara, perangkat jump pack bahkan menjadi perlengkapan standar pada kendaraan derek untuk menangani mobil listrik yang mogok.
Jika kendaraan tetap tidak bisa dipindahkan, opsi berikutnya adalah menggunakan jasa derek. Namun, tidak semua metode towing cocok untuk mobil listrik.
Beberapa kendaraan listrik tidak disarankan diderek dengan roda menyentuh jalan karena dapat memengaruhi sistem penggerak.
Oleh karena itu, penggunaan flatbed towing atau derek gendong lebih dianjurkan.
Mahaendra menekankan bahwa pemahaman pengemudi terhadap karakter kendaraan listrik sangat penting, terutama dalam situasi darurat.
Langkah sederhana seperti mengenali gejala aki 12V melemah, membawa jump starter, hingga mengetahui prosedur evakuasi dasar dapat membantu meminimalkan risiko saat kendaraan mogok di lokasi rawan.
“Yang penting jangan panik. Pahami dulu kondisi mobilnya, lalu lakukan langkah yang aman,” katanya.
Dengan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik di Indonesia, edukasi terkait penanganan darurat menjadi hal yang semakin krusial, tidak hanya bagi pengemudi, tetapi juga bagi petugas di lapangan.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR