GridOto.com - Bahlil Lahadalia mengungkapkan kalau persaingan dalam memperoleh pasokan bahan bakar minyak (BBM) dari luar negeri saat ini sudah semakin ketat.
Menurutnya, Indonesia harus bersaing dengan berbagai negara lain demi memastikan kebutuhan energi dalam negeri tetap terpenuhi.
Ia menjelaskan, pemerintah tidak membatasi sumber impor BBM dari negara tertentu.
Semua opsi terbuka, termasuk peluang kerja sama dengan Rusia yang hingga kini masih dalam tahap penjajakan.
Menukil Kompas.com, Bahlil menegaskan, fokus utama pemerintah yakni menjaga ketersediaan BBM di tengah kondisi pasar global yang semakin kompetitif.
Dalam situasi seperti ini, pemerintah tidak bisa terlalu selektif terhadap asal negara pemasok, selama pasokan tersedia dan harga yang ditawarkan bersaing.
Ia juga menggambarkan dinamika di pasar global, di mana transaksi pembelian BBM sangat dipengaruhi oleh harga.
Bahkan, dalam proses tender, penjual bisa saja mengalihkan pasokan kepada pihak yang menawarkan harga lebih tinggi, meskipun sebelumnya sudah ada kesepakatan awal.
Baca Juga: Sinyal Waspada BBM, Harga Bisa Meledak Kalau Minyak Tembus Angka Ini
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat pemerintah harus menyiapkan berbagai strategi alternatif dalam pengadaan energi agar pasokan tetap aman dan tidak terganggu.
Selain BBM, Bahlil memastikan bahwa ketersediaan elpiji nasional masih dalam kondisi terjaga.
Pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber impor untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan, khususnya Timur Tengah.
Ia menyebut, pasokan elpiji yang sebelumnya banyak berasal dari kawasan tersebut kini mulai dialihkan ke negara lain seperti Amerika Serikat, Australia, serta beberapa negara lainnya.
Langkah diversifikasi juga diterapkan pada impor minyak mentah (crude oil).
Jika sebelumnya bergantung pada Timur Tengah, kini Indonesia mulai memperluas sumber pasokan ke negara-negara di Afrika, seperti Angola dan Nigeria.
Sebelumnya, pemerintah juga membuka peluang impor minyak dari berbagai negara di luar kawasan tradisional pemasok, termasuk Rusia.
Menurut Bahlil, selama pasokan tersedia dan harga yang ditawarkan kompetitif, kerja sama dengan negara mana pun tetap memungkinkan.
Ia menambahkan, peluang kolaborasi dengan Rusia cukup terbuka, mengingat sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, juga mulai menjajaki kerja sama serupa dalam sektor energi.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR