Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Anomali di Australia, Harga BBM di Negeri Kangguru Justru Turun Karena Ini

Irsyaad W - Rabu, 1 April 2026 | 09:05 WIB
SPBU Ampol di Canberra, Australia
Xinhua/Zhang Na
SPBU Ampol di Canberra, Australia

GridOto.com - Terjadi anomali di Australia saat terjadi krisis energi yang terjadi imbas konflik di Timur Tengah.

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Negeri Kangguru tersebut justru turun.

Ini karena Pemerintah Australia memutuskan untuk memangkas 50 persen pajak BBM di tengah krisis energi yang terjadi imbas konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.

Harga minyak mentah kini melampaui 116 dollar AS (Rp 1.798.000) per barel.

Dalam konferensi pers di Canberra, Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut pajak bahan bakar akan dipotong setengah mulai 1 April hingga 30 Juni 2026 sebagai bentuk respons terhadap tekanan finansial akibat kenaikan harga energi.

Artinya, harga bensin di Australia turun 26,3 sen Australia (Rp 2.700) per liter sehingga pengendara bisa menghemat hampir 19 dollar (Rp 294.500) untuk tangki berkapasitas 65 liter.

"Kami memahami tekanan biaya yang dirasakan masyarakat sangat nyata, karena dampak perang di belahan dunia lain terasa hingga ke sini. Kami bertindak sekarang agar lebih siap menghadapi situasi," ungkap Albanese dilansir dari Al Jazeera, (30/3/26).

Baca Juga: Ngeri, Harga BBM di Singapura Cetak Rekor Tertinggi Rp 45 Ribuan Per Liter

Dalam sepekan terakhir, harga rata-rata solar serta bensin di lima kota terbesar Australia masing-masing naik 10 persen dan 8 persen.

Kendati Australia merupakan eksportir besar batu bara dan gas alam, negara ini masih mengimpor sekitar 80 persen kebutuhan bahan bakar olahannya dari luar negeri.

Pemerintah Australia juga bakal menangguhkan biaya untuk kendaraan berat selama tiga bulan.

Di sisi lain, Juru Bicara National Roads and Motorists’ Association, Peter Khoury, menilai kebijakan pemotongan pajak kemungkinan tidak akan banyak berdampak.

Sebab, harga bensin telah naik sekitar 33 sen (Rp 10.000) per liter hanya dalam dua pekan.

"Bukan pajaknya yang membuat harga naik, tetapi harga minyak dunia. Ekonomi Australia bergantung pada solar, sebagian besar makanan dan layanan didistribusikan oleh kendaraan berat, dan semuanya menggunakan solar," jelas Khoury.

Ia menambahkan, pemotongan pajak serupa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 hampir tidak terasa oleh pengendara kala itu.

Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM

"Saya rasa masyarakat sangat menginginkan perubahan, tetapi yang terjadi sebelumnya, dampaknya hampir tidak terasa di pom bensin," imbuh dia.

Australia sejauh ini belum menerapkan kebijakan penghematan energi wajib seperti pembatasan bahan bakar atau kerja dari rumah.

Pemerintahnya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi bahan bakar berlebihan.

Menteri Energi Australia, Chris Bowen sempat menyatakan bahwa lebih dari 500 SPBU sempat kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar akibat aksi panic buying di seluruh negeri.

Bowen menegaskan, pasokan energi Australia tetap aman dengan semua pengiriman bahan bakar berjalan sesuai jadwal.

Negara tersebut memiliki cadangan darurat sekitar 39 hari untuk bensin, serta masing-masing sekitar 30 hari untuk solar dan bahan bakar pesawat.

Editor : Hendra

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa