Pemerintah Australia juga bakal menangguhkan biaya untuk kendaraan berat selama tiga bulan.
Di sisi lain, Juru Bicara National Roads and Motorists’ Association, Peter Khoury, menilai kebijakan pemotongan pajak kemungkinan tidak akan banyak berdampak.
Sebab, harga bensin telah naik sekitar 33 sen (Rp 10.000) per liter hanya dalam dua pekan.
"Bukan pajaknya yang membuat harga naik, tetapi harga minyak dunia. Ekonomi Australia bergantung pada solar, sebagian besar makanan dan layanan didistribusikan oleh kendaraan berat, dan semuanya menggunakan solar," jelas Khoury.
Ia menambahkan, pemotongan pajak serupa setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 hampir tidak terasa oleh pengendara kala itu.
Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM
"Saya rasa masyarakat sangat menginginkan perubahan, tetapi yang terjadi sebelumnya, dampaknya hampir tidak terasa di pom bensin," imbuh dia.
Australia sejauh ini belum menerapkan kebijakan penghematan energi wajib seperti pembatasan bahan bakar atau kerja dari rumah.
Pemerintahnya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi bahan bakar berlebihan.
Menteri Energi Australia, Chris Bowen sempat menyatakan bahwa lebih dari 500 SPBU sempat kehabisan setidaknya satu jenis bahan bakar akibat aksi panic buying di seluruh negeri.
Bowen menegaskan, pasokan energi Australia tetap aman dengan semua pengiriman bahan bakar berjalan sesuai jadwal.
Negara tersebut memiliki cadangan darurat sekitar 39 hari untuk bensin, serta masing-masing sekitar 30 hari untuk solar dan bahan bakar pesawat.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR