Baca Juga: Pengamat Ekonomi Bikin 3 Simulasi Insentif Mobil Listrik, Opsi Ketiga Dinilai Paling Masuk Akal
Nah, pertanyaannya apakah semua mobil listrik yang ada memenuhi syarat itu. “Mestinya produsen yang tidak memiliki pabrik di sini ada 2 kemungkinan saja,” ungkapnya.
Pertama, ada kenaikan harga karena insentif hilang. Atau kedua jika tetap menggunakan harga lama mereka harus mengurangi keuntungan. Ini sebagai dilema bagi produsen.
“Sebab, dalam riset kami di LPEM UI, tiap ada kenaikan harga 1 persen, maka akan ada penurunan penjualan sebesar 1 persen juga. Bayangkan kalau ada kenaikan harga hingga 30 persen, tentu penjualan mereka akan turun 30 persen,” bilang Dr. Riyanto. (Hend)
Produsen Butuh Kepastian
Kepastian insentif mobil listrik tahun 2026 masih menjadi tanda tanya.
Di tengah belum jelasnya arah kebijakan lanjutan dari pemerintah, Jaecoo Indonesia memilih menunggu sambil memastikan tetap patuh pada aturan yang berlaku.
Head of Marketing Jaecoo Indonesia, Ilham Pratama, menegaskan pihaknya akan mengikuti apa pun keputusan yang nantinya ditetapkan pemerintah, terkait insentif kendaraan listrik.
“Terkait insentif mobil listrik, kami ingin terus memberikan yang terbaik buat konsumen. Harga yang saat ini kami berikan adalah harga yang terbaik,” ujar Ilham saat ditemui di Jakarta Barat, Rabu (25/2/2026).