Pria yang akrab disapa Pak Avin itu sehari-hari bekerja di sektor angkutan barang menggunakan truk Colt Diesel enam ban.
Baca Juga: Viral Seruan Stop Bayar Pajak di Jateng, Ini Komentar Pejabat Soal Opsen PKB
"Menurut saya, dengan situasi ekonomi yang saat ini belum stabil, itu sangat memberatkan. Apalagi saya di bidang angkutan barang. Muatan sekarang lagi sepi," kata Avin, dikutip dari Tribunjateng, (13/2/26).
Avin menyebut pajak truknya yang sebelumnya sekitar Rp 1,3 juta kini naik menjadi Rp 1,9 juta.
"Naiknya hampir 30 persen versi saya itu, di opsennya," ucapnya.
Kenaikan tersebut menurutnya tidak sebanding dengan kondisi usaha distribusi barang yang sedang lesu.
"Kalau diterapkan kenaikan pajak itu sangat memberatkan sekali, khususnya buat saya. Dan saya rasa rekan-rekan juga merasa keberatan," tegasnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan tersebut.
"Harapan saya pemerintah cari opsi lainlah, dari hasil bumi atau apa. Jangan bebankan pajak ke masyarakat kecil seperti itu. Kan negara itu dapat pemasukan tidak dari pajak saja," ucapnya.
Keluhan juga datang dari Kota Semarang. Supaiman (60), warga Kecamatan Candisari, Semarang, mengaku harus pulang ke rumah karena uang yang dibawanya tidak cukup untuk membayar pajak Honda BR-V miliknya di Samsat Hanoman.