Jangan Kebut-kebutan di Jalan, Begini Dampaknya Kalau Tulang Sudah Patah

Harun Rasyid - Kamis, 31 Desember 2020 | 16:07 WIB

Ilustrasi korban patah tulang akibat kecelakaan lalu lintas (Harun Rasyid - )

GridOto.com - Berkendara secara agresif di jalan, tentu membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengendara lain.

Selain mengancam nyawa, kecelakaan lalu lintas akibat berkendara secara agresif juga mengakibatkan luka ringan seperti keseleo sampai luka berat semisal patah tulang.

Seri Guru Singa, Pengurus Panti Pengobatan Ahli Patah Tulang Gurusinga di Jakarta Timur mengatakan, korban kecelakaan kendaraan bermotor jadi pasien yang paling sering ia tangani.

"80 persen pasien yang berobat ke sini itu dari kecelakaan motor dan mobil, mulai dari jatuh hingga tabrakan yang membuat tulang patah atau bergeser. Pasien yang datang ke sini biasanya mencari pengobatan alternatif setelah berobat ke rumah sakit," kata Seri saat ditemui GridOto.com, beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Momen Mengerikan yang Pernah Terjadi di F1 Bahrain, Kimi Raikkonen Lindas Kaki Kru Ferrari Sampai Patah

Seri mengatakan, lama penyembuhan patah tulang akibat kecelakaan kendaraan terbilang bervariasi karena beberapa faktor.

"Faktor lama penyembuhan patah tulang itu, pertama, usia pasien. Semakin muda umurnya akan makin cepat sembuh, yang kedua itu tergantung tulang bagian mana yang mengalami patah," ucapnya.

Seri menyebut, tulang manusia di bagian tertentu yang patah bahkan butuh waktu lama untuk sekadar tersambung atau menyatu kembali.

MotoGP
Ilustrasi patah tulang di bagian lengan


"Kalau yang patah itu tulang paha dan lengan, itu sembuhnya lebih lama dari tulang lainnya. Sebab bagian ini lemaknya banyak, tulangnya satu dan sudah gitu besar ukurannya. Jadi untuk waktu tersambungnya tulang yang patah itu sekitar 2 bulan setengah," jelasnya.

Baca Juga: Lihat Kondisi Marc Marquez yang Absen dari MotoGP 2020, Begini Tanggapan Ahli Fisioterapi dan Osteopati

Lebih lanjut, Seri mengungkapkan kalau tulang seseorang yang patah cenderung rentan dan tidak bisa kembali normal seperti semula setelah disembuhkan.

"Kalau patah tulang itu, walaupun sudah sembuh tetap ada bekasnya. Apalagi kalau kecelakaan parah lagi, tulangnya lebih rentan untuk patah. Jadi sebaiknya pengendara motor atau mobil mencegah patah tulang dengan lebih hati-hati berkendara," jelas Seri.

Seri menambahkan, pemakaian perangkat keselamatan juga sebaiknya dipatuhi demi mencegah parahnya dampak kecelakaan lalu lintas yang tidak terprediksi.

Istimewa
Ilustrasi berkendara secara safety


"Manusia itu kalau jatuh dia akan reflek memegang atau melindungi kepalanya. Jadi bisa dibayangkan kalau kebut-kebutan misalnya saat naik motor tidak pakai helm, dampak kecelakaan bisa sangat fatal," tutupnya.

Baca Juga: 7 Tahun Setelah Michael Schumacher Kecelakaan dan Cedera Otak, Apa Kabarnya Sekarang?