GridOto.com - Kondisi pasar mobil bekas di Indonesia masih belum sepenuhnya pulih sejak 2025 hingga awal 2026.
Penurunan daya beli masyarakat menjadi faktor utama yang membuat transaksi cenderung melambat di berbagai segmen.
Founder sekaligus CEO Otospector, Jeffrey Andika, mengungkapkan bahwa tren penurunan ini terjadi secara umum di pasar mobil bekas.
“Secara overall, pasar mobil bekas dari 2025 sampai awal 2026 ini memang relatif menurun. Salah satu penyebab utamanya karena kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat yang melemah,” ujar Jeffrey.
Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi belakangan ini juga mulai memberikan dampak terhadap preferensi konsumen, khususnya di segmen mobil bermesin diesel.
“Efek kenaikan BBM ini paling terasa ke mobil diesel. Karena harga solar naik, permintaan jadi turun dan akhirnya harga mobil diesel bekas ikut terkoreksi,” jelasnya.
Menurut Jeffrey, kondisi ini membuat sebagian konsumen mulai berpikir ulang sebelum membeli kendaraan diesel, yang sebelumnya dikenal irit dan cocok untuk penggunaan jarak jauh.
Perubahan ini pun berdampak langsung pada harga jual di pasar. Unit-unit diesel yang sebelumnya cukup diminati kini harus menyesuaikan harga agar tetap kompetitif.
Baca Juga: Harga BBM Naik, Mobil Listrik Bekas Mulai Dianggap 'Sexy' Oleh Konsumen
Dengan kombinasi daya beli yang melemah dan faktor eksternal seperti kenaikan BBM, pelaku usaha mobil bekas dihadapkan pada tantangan untuk menjaga perputaran stok tetap sehat.
“Jadi memang ada tekanan dari dua sisi, demand yang turun dan faktor biaya operasional seperti BBM. Ini yang bikin pasar mobil bekas belum terlalu bergairah,” tutup Jeffrey.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR