GridOto.com - Tahun 2025 menjadi periode yang cukup berat bagi pelaku industri mobil bekas di Indonesia.
Penurunan daya beli masyarakat ditambah gempuran mobil listrik asal China membuat harga mobil konvensional, terutama di segmen premium, mengalami tekanan signifikan.
Founder sekaligus CEO Otospector, Jeffrey Andika, mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini bahkan disebut-sebut lebih berat dibanding masa pandemi Covid-19.
“Penurunan pembelian itu terasa sekali. Ketika demand turun, otomatis perputaran stok di showroom juga ikut melambat,” ujar Jeffrey di Jakarta Utara belum lama ini.
Ia menjelaskan, kondisi ini diperparah dengan hadirnya mobil listrik baru dari pabrikan China yang menawarkan harga kompetitif dan fitur modern.
Salah satu yang paling terasa dampaknya adalah di segmen MPV premium.
“Contoh paling nyata itu di kelas Toyota Alphard. Ada showroom rekanan yang pegang stok sampai 10 unit. Tiba-tiba muncul Denza D9 dengan harga sekitar Rp 950 juta, langsung harga Alphard bekas tertekan,” jelasnya.
Menurut Jeffrey, konsumen kini memiliki lebih banyak opsi, mulai dari membeli Alphard baru, unit bekas, hingga beralih ke mobil listrik baru dengan harga yang relatif mirip.
“Logikanya sederhana, konsumen berpikir, ‘Ngapain beli Alphard bekas Rp 1 miliar, kalau bisa dapat mobil baru dengan teknologi lebih canggih di harga Rp 950 jutaan?’,” tambahnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR