GridOto.com - Mungkin banyak dari Sobat GridOto yang enggak ngeh dengan perbedaan Honda S90 dan S90Z, dan malah menganggapnya sebagai satu model yang sama?
Padahal jika ditarik garis sejarahnya, keduanya memiliki identitas yang berbeda meski sekilas tampak kembar.
Perbedaan paling mendasar terletak pada asal-usulnya.
Honda S90 lahir murni dari Jepang pada 1964, sementara S90Z merupakan motor pertama yang dirakit secara lokal di Indonesia sejak tahun 1971.
Secara teknis, keduanya memang berbagi mesin yang identik.
Keduanya mengusung mesin 4-tak model tidur berkapasitas 89,6 cc yang mampu menghasilkan tenaga 8 dk.
Sasisnya juga sama-sama monokok berbentuk huruf "T" dari pelat besi pres yang ikonik itu.
Namun jika Sobat mencermati secara lebih detail, ada beberapa poin kunci yang menjadi pembeda utama.
Baca Juga: Nostalgia Motor Lawas, Ternyata Ini yang Dulu Bikin Yamaha Jupiter Lebih Mahal dari Vega
Pertama, perhatikan bagian tangki bensin.
Honda S90 versi awal memiliki side cover plastik di sisi tangki sebagai pelindung agar tak tergesek kaki.
Sementara S90Z rakitan lokal menanggalkan plastik itu dan menggantinya dengan aksen krom yang lebih luas.
Bentuk punggung tangki S90Z juga dibuat sedikit lebih mengotak.
Emblemnya pun berbeda, dimana S90Z menggunakan logo sayap dengan tulisan Honda tanpa bingkai lingkaran.
Perbedaan mencolok kedua ada pada panel instrumen.
Pada Honda S90 buatan Jepang, panel speedometernya didesain menyatu atau menempel langsung dengan rumah lampu depan.
Sedangkan pada S90Z, panel instrumen dibuat terpisah dari lampu utama, memberikan kesan yang lebih modern pada masanya.
Memang kalau nggak jeli, perbedaan S90 dan S90Z mungkin tak terlalu terlihat.
Tapi buat penyuka detail, perbedaan di panel instrumen itulah yang paling kelihatan jelas kalau lagi riding.
Honda S90Z yang terpisah itu punya aura motor sport yang lebih kuat, sedangkan S90 yang menyatu itu kental banget gaya klasik 60-annya.
Kalau Sobat Gridoto gimana, pilih si orisinal Jepang atau sang legenda lokal S90Z?
| Editor | : | Dida Argadea |
KOMENTAR