GridOto.com - PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk bersama Karoseri Laksana hampir menyelesaikan uji coba Toyota HiAce listrik bertransmisi matik di Semarang, Jawa Tengah.
Tugasnya wira-wiri antar penumpang secara gratis selama 3 bulan di layanan Trans Semarang mulai 13 Februari-28 April 2026.
Salah satu pramudi feeder listrik di Koridor 6 rute Undip–Unnes, Taufik Kurniadi (27) tersebut, mengaku telah mengoperasikan armada tersebut selama hampir tiga bulan.
Ia menilai feeder listrik memberikan kenyamanan lebih dibandingkan kendaraan konvensional berbahan bakar minyak.
"Menurut saya lebih nyaman, karena kebanyakan sistemnya sudah otomatis (matik). Jadi saat kondisi macet, berhenti dan jalan lagi itu lebih enak. Suspensinya juga terasa lebih empuk," ujarnya saat ditemui di halte Unnes, (23/4/26) sore menukil Kompas.com.
Menurut Taufik, karakteristik jalan di Kota Semarang yang naik-turun tidak menjadi kendala bagi bus listrik.
Bahkan, ia menilai performanya lebih unggul, terutama saat melintasi tanjakan.
"Kalau untuk topografi Semarang yang naik turun, justru cocok. Tenaganya lebih terasa dibanding kendaraan konvensional," katanya.
Ia juga menyoroti minimnya getaran saat HiAce listrik itu melaju.
Berbeda dengan bus mesin diesel, feeder listrik disebutnya lebih halus saat dioperasikan.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmikan Pabrik Bus dan Truk Listrik VKTR di Magelang, Optimis Punya Merek Sendiri
Ia juga hanya memerlukan sekitar dua hingga tiga hari untuk menyesuaikan diri dengan HiAce listrik tersebut.
Dari sisi operasional, bus feeder listrik memiliki daya tempuh sekitar 300 kilometer dalam sekali pengisian.
Pengisian daya baterai pun relatif singkat, yakni sekitar satu jam lebih.
Selama satu bulan pengoperasian di Koridor 6, Taufik menyebut tingkat keterisian penumpang cukup tinggi, terutama pada jam sibuk di lingkungan kampus Unnes.
"Biasanya ramai saat pagi bareng orang berangkat kerja dan mahasiswa kuliah. Jam pulang juga lumayan ramai," bebernya.
Kini layanan feeder listrik masih dalam tahap uji coba dan digratiskan untuk penumpang hingga akhir April 2026.
Setelah masa uji coba berakhir, tarif akan kembali normal, yakni Rp 4.000 untuk umum dan Rp 1.000 bagi pelajar serta lansia.
"Kalau kapasitasnya, bus feeder listrik maksimal mengangkut sekitar 17 penumpang, lebih sedikit dibandingkan feeder konvensional yang bisa sampai 20 orang," imbuhnya.
Kemudian salah seorang penumpang, Lina mengaku senang dengan adanya penambahan armada feeder dan bus listrik di Trans Semarang.
Pasalnya selama ini armada bus Trans Semarang dikenal usang dengan fasilitas tak layak dan perlu peremajaan.
Baca Juga: Tak Cuma Bus, Pabrik VKTR yang Baru Diresmikan Prabowo Juga Produksi Kendaraan Ini
"Seneng akhirnya ini (feeder) ada yang lebih nyaman," ujar mahasiswa Unnes ditemui di halte.
Sementara itu, VKTR bersama Laksana terus mendorong transformasi transportasi publik melalui rangkaian uji coba bus listrik di berbagai koridor strategis di Semarang.
Program ini dicoba dalam tiga fase dengan tiga armada yang berbeda, mulai dari bus listrik 12 meter di Koridor 1, bus medium 8 meter di Koridor 5, hingga feeder listrik 6 meter.
Direktur dan Chief Operational Officer VKTR, V Bimo Kurniatmoko, menyoroti adopsi kendaraan listrik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui penguatan industri lokal.
"Dari sisi pengguna, bus listrik dinilai menawarkan perjalanan yang lebih senyap dan minim getaran sehingga meningkatkan kenyamanan selama perjalanan," tutur Bimo.
Dengan respons positif dari masyarakat dan pramudi, uji coba ini akan menjembatani elektrifikasi transportasi publik yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di Indonesia
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR