“Sebenarnya para pengusaha angkutan barang tak perlu risau dengan kebijakan ini, toh ini kebijakan yang sudah menjadi hajatan setiap tahun,” jelasnya.
Dari sisi keselamatan, pembatasan ini dinilai penting karena karakteristik truk besar yang melaju lambat di jalan tol.
“Mengingat angkutan barang selalu berjalan lambat, hanya kisaran 20-30 km per jam. Sangat lambat hal tersebut sangat mengganggu pergerakan trafik, apalagi di jalan tol,” paparnya.
Ia juga menyoroti kebiasaan truk yang kerap menggunakan lajur kanan.
“Angkutan barang selain lambat seringnya juga mengambil lajur kanan. Ini sangat berisiko, selain menghambat trafik, juga mengancam keselamatan pengguna jalan,” lanjutnya.
Berdasarkan analisa trafik Jasa Marga, keberadaan angkutan barang saat mudik Lebaran bisa mendistorsi pergerakan lalu lintas hingga 30 persen.
Meski begitu, pemerintah tetap memberikan pengecualian untuk angkutan logistik dan BBM, selama bukan kendaraan Over Dimension Over Load (ODOL).
Selain pembatasan angkutan barang, pemerintah juga menyiapkan diskon tarif tol sebesar 20–30 persen di sejumlah ruas, serta potongan harga tiket angkutan umum seperti kereta api, kapal laut, penyeberangan hingga pesawat.
Baca Juga: Dari Mobil hingga Motor, Ini Pilihan Ban Michelin Group untuk Mudik
Tak hanya itu, kebijakan Work From Anywhere (WFA) atau Flexible Working Arrangement (FWA) juga diterapkan pada 16–17 Maret untuk arus mudik dan 25–26 Maret untuk arus balik.
Tulus menekankan pentingnya sosialisasi jauh hari kepada pelaku usaha angkutan barang agar bisa melakukan mitigasi risiko bisnis.
“Ke depan, terkait pembatasan angkutan barang harus disosialisasikan jauh jauh hari ke operator, sehingga sektor angkutan barang bisa mengantisipasi dan memitigasi segala risiko dan dampak bisnis,” pungkasnya.
Dengan berbagai rekayasa lalu lintas tersebut, diharapkan arus mudik dan arus balik Lebaran 2026 bisa berjalan lebih lancar serta menekan angka kecelakaan dan fatalitas di jalan tol.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR