"Bisa jadi, sangat berpotensi, tinggal kita lihat apakah hanya melihat rate-nya saja ataukah diberikan kemudahan bagi customer," ucapnya.
Sebagai antisipasi, Daihatsu mengandalkan pilihan tenor kredit hingga delapan tahun agar cicilan bulanan tetap lebih terjangkau meski bunga kredit mengalami penyesuaian.
"Dengan yang seperti saya jelaskan sebelumnya, karena kami sudah menyiapkan TOP yang 8 tahun, ya masing-masing walaupun presentasenya masih sedikit ya sekarang. Jadi ya diberi kemudahannya bukan saja pada saat dia membayar, tapi pada kemampuannya diperpanjang masa pembayaran," jelas Sri Agung.
Untuk saat ini, Daihatsu juga belum menyiapkan strategi khusus menyusul kenaikan BI Rate.
Perusahaan masih memantau perkembangan pasar sebelum mengambil langkah berikutnya.
"Kami masih monitor, kan baru kemarin, kan baru minggu lalu. Kami masih monitor," ujarnya.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Sri Agung menilai kondisi pasar otomotif nasional justru menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penjualan wholesales maupun retail disebut sama-sama meningkat sekitar 9 hingga 10 persen, yang menjadi sinyal adanya pertumbuhan positif.
Menurutnya, pertumbuhan pasar saat ini terutama didorong oleh segmen kendaraan menengah ke atas dan kendaraan komersial seperti pikap maupun semi-komersial.
Sementara kontribusi segmen Low Cost Green Car (LCGC) memang mulai menurun, meski volume penjualan LCGC Toyota dan Daihatsu disebut masih tetap terjaga.
Sebelumnya, kenaikan BI Rate dikhawatirkan akan meningkatkan biaya dana (cost of fund) perusahaan pembiayaan yang pada akhirnya dapat mendorong penyesuaian bunga kredit kendaraan.
Pelaku industri pembiayaan juga menilai kondisi tersebut berpotensi menekan daya beli masyarakat serta membuat proses persetujuan kredit menjadi lebih selektif, mengingat sekitar 70-75 persen pembelian kendaraan di Indonesia masih dilakukan melalui skema pembiayaan.