GridOto.com- Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate pada juni ini sebesar 100 bps menjadi 5,75 persen dari sebelumnya 4,75 persen.
Kenaikan ini memicu kekhawatiran kalangan industri otomotif tanah air.
Banyak pihak memprediksi kebijakan ini akan mendongkrak bunga kredit kendaraan dan mengubah pola pembelian konsumen.
Suwandi Wiratno, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) mengakui tantangan yang berat bagi industri pembiayaan.
"Beberapa Bank Himbara (gabungan Bank milik pemerintah) telah menaikkan suku bunga sebesar 100 bps hingga 150 bps," jelas Suwandi.
Seperti diketahui, Bank Himbara ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfungsi sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Dengan adanya kenaikan ini, muncul spekulasi apakah masyarakat akan mulai meninggalkan sistem pembiayaan dan beralih membeli mobil secara tunai.
"Tantangannya pada debitur baru, sebab kenaikan BI Rate pengaruh terhadap industri keuangan," bilang pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL Finance).
Baca Juga: Changan Bagi-bagi Promo di Indomobil Expo, Hadiah Langsung Sampai Program Pembiayaan Menarik
Sebab, perubahan BI Rate akan memengaruhi biaya dana (cost of fund) bagi lembaga pembiayaan atau bank, yang kemudian diteruskan kepada konsumen.
Terlebih menurut Suwandi, kondisi ekonomi nasional saat ini cukup berat.
"Kemampuan beli masyarakat juga turun. Kekhawatiran terjadi penurunan pembeli juga akan terjadi," bilangnya.
Namun, Suwandi tidak bisa memprediksi berapa akan terjadi penurunan tersebut.
Sebagai informasi, saat ini menurut Suwandi sekitar 70-75 persen pembelian kendaraan lewat jalur kredit.
Ia mengatakan masyarakat yang membeli lewat jalur kredit masih tetap tinggi.
Namun masalahnya, apakah proposal yang diajukan akan disetujui oleh pihak leasing.
"Karena potensi risiko sekarang juga makin tinggi. Ini tantangannya," tutup Suwandi.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR