Ia mencontohkan beberapa model yang dinilai paling terdampak akibat mahalnya solar nonsubsidi antara lain Toyota Fortuner, Toyota Kijang Innova Reborn, Mitsubishi Pajero Sport Dakar, Isuzu MU-X hingga Chevrolet Captiva.
Menurut Tjung, kenaikan harga solar nonsubsidi yang kini semakin tinggi membuat konsumen mulai menghitung ulang biaya penggunaan kendaraan diesel sehari-hari.
Sebagai informasi, per 4 Mei 2026, Pertamina menjual Dexlite seharga Rp 26.000 per liter dan Pertamina Dex Rp 27.900 per liter.
Sementara BBM solar nonsubsidi dari SPBU swasta seperti BP dan Vivo sudah menyentuh Rp 30.890 per liter.
Meski begitu, Tjung menyebut harga mobil diesel bekas sejauh ini belum mengalami penurunan walaupun permintaannya mulai melemah.
“Harga mobkas-nya masih belum ada terlihat turun, biarpun tingkat permintaan sudah menurun. Malahan banyak yang mau jual unit mobkas diesel-nya,” katanya.
AMBI pun tetap optimistis industri mobil bekas masih memiliki prospek yang kuat di tengah situasi saat ini.
Tjung menilai kebutuhan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih tinggi, sehingga showroom tinggal menyesuaikan stok dengan kebutuhan konsumen yang kini lebih mengutamakan efisiensi.
“Kami di AMBI melihat permintaan terhadap mobil bekas yang irit bahan bakar, biaya perawatan rendah, dan value for money tetap cukup baik di pasar,” tutupnya.