BBM RON 95 tercatat dipasarkan di kisaran 3,40 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.413 per liter di Shell, Esso, dan Sinopec.
Sementara harga terendah berada di SPC sebesar 3,39 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.400 per liter.
Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM
Lonjakan harga yang cepat memicu kekhawatiran di kalangan konsumen.
Sebagian pihak menilai kenaikan tersebut terjadi terlalu cepat dibandingkan potensi penurunan stok BBM di lapangan.
"Ini perampokan terang-terangan. Ini bahkan bukan minyak baru yang tiba dari daerah yang terkena dampak perang, ini masih minyak lama," ujar seorang pengemudi taksi.
Kenaikan harga yang cepat di sisi hulu, sementara penurunan harga sering kali berlangsung lambat, menimbulkan dugaan operator SPBU mungkin memanfaatkan situasi menjelang potensi krisis pasokan.
Menurut laporan, harga BBM di Singapura tidak dikendalikan pemerintah, sehingga pergerakannya sangat bergantung pada mekanisme pasar, khususnya prinsip penawaran dan permintaan.
Penentuan harga BBM di Singapura dilakukan secara harian oleh pengecer dengan mempertimbangkan Mean of Platts Singapore (MOPS), yaitu rata-rata penilaian harga harian yang dipublikasikan oleh S&P Global Platts, meski data tersebut tidak tersedia untuk publik.
"Biaya minyak mentah menyumbang hampir 50 persen dari harga eceran produk minyak bumi, dan memiliki dampak jangka panjang yang paling signifikan," tulis Caltex dalam situs resminya.
Perusahaan juga menambahkan volatilitas politik di wilayah penghasil minyak secara historis memengaruhi harga minyak mentah secara global.
Selain itu, Esso menyatakan harga grosir BBM dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat persediaan, biaya penyimpanan, dan transportasi.
"Selain harga grosir, harga bensin Esso di Singapura juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti harga tanah, bea atau pajak pemerintah, nilai tukar mata uang, dan kekuatan pasar yang kompetitif," tulis perusahaan tersebut di situsnya.