Ngeri, Harga BBM di Singapura Cetak Rekor Tertinggi Rp 45 Ribuan Per Liter

Irsyaad W - Selasa, 31 Maret 2026 | 20:15 WIB

SPBU Esso di Singapura

GridOto.com - Saat ini harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Singapura mengerikan.

Dilaporkan mencetak rekok harga tertingginya yang sebelumnya tercatat saat krisis Ukraina pada 2022.

Kenaikan ini terjadi di tengah gejolak pasokan minyak global setelah konflik Iran yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel sejak akhir Februari 2026.

Dampak konflik tersebut mulai terasa di SPBU Singapura hanya dalam hitungan hari.

Menurut laporan The Straits Times, dikutip (17/3/26), butuh sekitar tiga hari setelah perang diluncurkan pada 28 Februari sebelum dampaknya merembet ke harga BBM di Singapura.

Gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah disebut menjadi pemicu utama kenaikan harga.

Situasi semakin diperparah oleh ketidakpastian terkait jalur distribusi minyak global setelah Iran menyatakan penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Singapura sendiri mengimpor seluruh kebutuhan minyak mentahnya, dengan sebagian besar berasal dari Timur Tengah.

Hingga kini belum jelas apakah jalur alternatif untuk pengiriman minyak telah tersedia.

Kenaikan harga BBM terlihat nyata pada pertengahan Maret 2026.

Baca Juga: Thailand Menyerah, Harga BBM Hampir Mirip Pertalite Meroket Jadi Rp 20 Ribuan Per Liter

CNA
SPBU Caltex di Singapura

Operator SPBU besar menaikkan harga secara bertahap seiring fluktuasi harga minyak global.

Caltex misalnya, menaikkan harga BBM RON 95 sebesar 10 sen menjadi 3,45 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.838 per liter (asumsi kurs Rp 13.286 per dollar Singapura) pada 13 Maret 2026.

Angka ini melampaui rekor sebelumnya sebesar 3,42 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.440 per liter yang tercatat pada Juni 2022 setelah Uni Eropa melarang impor minyak Rusia.

Harga BBM RON 95 kini tercatat 57 sen atau sekitar Rp 7.573 lebih mahal dibandingkan sebelum serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Dengan kenaikan tersebut, pengendara harus merogoh kocek tambahan sekitar 28,50 dollar Singapura atau sekitar Rp 378.651 untuk mengisi penuh tangki kendaraan berkapasitas 50 liter, sebelum memperhitungkan diskon.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis BBM lain seperti RON 92, RON 98, serta varian premium, yang semuanya melampaui level tertinggi saat perang Ukraina.

Harga solar pun melampaui puncak 3,19 dollar Singapura atau sekitar Rp 42.381 per liter yang tercatat pada Maret 2022.

Operator SPBU menaikkan harga bahkan lebih dari sekali dalam sehari, mengikuti pergerakan harga minyak mentah yang berayun seiring perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah.

BBM RON 95 tercatat dipasarkan di kisaran 3,40 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.413 per liter di Shell, Esso, dan Sinopec.

Sementara harga terendah berada di SPC sebesar 3,39 dollar Singapura atau sekitar Rp 45.400 per liter.

Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM

Lonjakan harga yang cepat memicu kekhawatiran di kalangan konsumen.

Sebagian pihak menilai kenaikan tersebut terjadi terlalu cepat dibandingkan potensi penurunan stok BBM di lapangan.

"Ini perampokan terang-terangan. Ini bahkan bukan minyak baru yang tiba dari daerah yang terkena dampak perang, ini masih minyak lama," ujar seorang pengemudi taksi.

Kenaikan harga yang cepat di sisi hulu, sementara penurunan harga sering kali berlangsung lambat, menimbulkan dugaan operator SPBU mungkin memanfaatkan situasi menjelang potensi krisis pasokan.

Menurut laporan, harga BBM di Singapura tidak dikendalikan pemerintah, sehingga pergerakannya sangat bergantung pada mekanisme pasar, khususnya prinsip penawaran dan permintaan.

Penentuan harga BBM di Singapura dilakukan secara harian oleh pengecer dengan mempertimbangkan Mean of Platts Singapore (MOPS), yaitu rata-rata penilaian harga harian yang dipublikasikan oleh S&P Global Platts, meski data tersebut tidak tersedia untuk publik.

"Biaya minyak mentah menyumbang hampir 50 persen dari harga eceran produk minyak bumi, dan memiliki dampak jangka panjang yang paling signifikan," tulis Caltex dalam situs resminya.

Perusahaan juga menambahkan volatilitas politik di wilayah penghasil minyak secara historis memengaruhi harga minyak mentah secara global.

Selain itu, Esso menyatakan harga grosir BBM dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat persediaan, biaya penyimpanan, dan transportasi.

"Selain harga grosir, harga bensin Esso di Singapura juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti harga tanah, bea atau pajak pemerintah, nilai tukar mata uang, dan kekuatan pasar yang kompetitif," tulis perusahaan tersebut di situsnya.

YANG LAINNYA