GridOto.com - Ketegangan geopolitik global yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, terutama di jalur vital seperti Selat Hormuz, sempat memunculkan kekhawatiran soal pasokan energi dunia.
Namun, jika dilihat dari struktur kebutuhan dan pasokan dalam negeri, kondisi energi Indonesia saat ini masih relatif terkendali.
Secara fundamental, kebutuhan minyak nasional memang jauh lebih besar dibandingkan kemampuan produksi domestik.
Konsumsi minyak Indonesia saat ini berada di kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari.
Angka ini mencerminkan tingginya aktivitas ekonomi, terutama dari sektor transportasi dan industri yang menjadi penyumbang utama penggunaan BBM.
Di sisi lain, produksi minyak dalam negeri baru mampu menyuplai sekitar 600 ribu barel per hari.
Artinya, terdapat selisih yang cukup besar antara kebutuhan dan produksi, yakni mendekati 1 juta barel per hari.
Kesenjangan inilah yang kemudian harus ditutup melalui impor.
Mengutip berbagai sumber, jika ditarik dalam skala tahunan konsumsi BBM nasional tercatat sekitar 505 juta barel, sementara kapasitas produksi kilang domestik berada di kisaran 424 juta barel per tahun.
Baca Juga: Thailand Menyerah, Harga BBM Hampir Mirip Pertalite Meroket Jadi Rp 20 Ribuan Per Liter
Dengan demikian, terdapat defisit sekitar 81 juta barel per tahun yang masih harus dipenuhi dari luar negeri.
Selama ini, Indonesia mengimpor minyak dan BBM dari berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, maupun dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang justru menjadi pemasok terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan ditutupnya Selat Hormuz, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia akan mencari sumber impor lain dari luar kawasan Timur Tengah.
"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain," ungkap Airlangga di kantornya, Senin (2/3/2026).
Di luar itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mawengkang, mengatakan Kementerian Luar Negeri RI bersama dengan Kedutaan Besar Rerpublik Indonesia (KBRI) di Teheran, Iran, terus berkoordinasi terkait dengan dua kapal Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz.
"Terkait status kapal Pertamina, Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Tehran sejak awal terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait di Iran," kata Yvonne melalui pesan singkat, dikutip dari Kompas.com, Jumat (27/3/2026).
Dia mengatakan, dalam perkembangan koordinasi yang intens, kabar positif mulai diberikan oleh pihak Iran.
Kini koordinasi berkembang hingga ke tahapan teknis hingga operasional untuk melewati Selat Hormuz.
"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran, yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," tutur Yvonne.