Di Tengah Konflik Global, Ini Hitung-hitungan Kebutuhan dan Pasokan BBM RI

Naufal Shafly - Sabtu, 28 Maret 2026 | 15:58 WIB

Ilustrasi stok BBM Indonesia

Dengan demikian, terdapat defisit sekitar 81 juta barel per tahun yang masih harus dipenuhi dari luar negeri.

Selama ini, Indonesia mengimpor minyak dan BBM dari berbagai negara, baik dari kawasan Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, maupun dari negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia yang justru menjadi pemasok terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz, pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia akan mencari sumber impor lain dari luar kawasan Timur Tengah.

"Pemerintah sudah punya MoU untuk mendapatkan suplai dari non-Middle East. Misalnya, kemarin Pertamina sudah bikin MoU dengan Amerika, beberapa dengan Chevron, dengan Exxon, dan yang lain-lain," ungkap Airlangga di kantornya, Senin (2/3/2026).

Di luar itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Yvonne Mawengkang, mengatakan Kementerian Luar Negeri RI bersama dengan Kedutaan Besar Rerpublik Indonesia (KBRI) di Teheran, Iran, terus berkoordinasi terkait dengan dua kapal Pertamina yang masih terjebak di Selat Hormuz.

"Terkait status kapal Pertamina, Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Tehran sejak awal terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak terkait di Iran," kata Yvonne melalui pesan singkat, dikutip dari Kompas.com, Jumat (27/3/2026).

Dia mengatakan, dalam perkembangan koordinasi yang intens, kabar positif mulai diberikan oleh pihak Iran.

Kini koordinasi berkembang hingga ke tahapan teknis hingga operasional untuk melewati Selat Hormuz.

"Dalam perkembangannya, telah terdapat tanggapan positif dari pihak Iran, yang saat ini sedang ditindaklanjuti oleh pihak terkait pada aspek teknis dan operasional," tutur Yvonne.

YANG LAINNYA