Baca Juga: Teknologi Masa Depan Honda 0 Alpha Jadi Sorotan, Indonesia Berpeluang Kebagian?
Honda hanyalah salah satu dari sekian banyak produsen mobil tradisional yang mengalami kerugian miliaran dolar akibat mengejar strategi kendaraan listrik (EV), bergabung dengan perusahaan-perusahaan seperti General Motors, Ford, dan Stellantis.
General Motors telah memperingatkan kerugian sebesar 7,6 miliar dollar AS, sementara Stellantis memperkirakan 25 miliar dollar AS dan Ford 19 miliar dollar AS.
"Pelanggan lebih menghargai fitur berbasis perangkat lunak yang akan terus berkembang sesuai dengan preferensi pelanggan daripada fitur perangkat keras, seperti efisiensi bahan bakar dan ruang kabin" sambung Toshihiro Mibe.
Dalam hasil keuangan konsolidasi untuk tahun fiskal berjalan, Honda memperkirakan akan mencatat beban operasional sebesar 820 miliar yen hingga 1,12 triliun yen dan bagian kerugian investasi yang dicatat menggunakan metode ekuitas sebesar 110 miliar yen hingga 150 miliar yen.
Selain itu, Honda memperkirakan akan mencatat kerugian khusus sebesar 340 miliar hingga 570 miliar yen dalam hasil keuangan non-konsolidasi untuk tahun fiskal yang sama.
Selain itu, pada tahun fiskal berikutnya atau setelahnya, pengeluaran atau kerugian tambahan mungkin akan terjadi sehubungan dengan penilaian ulang strategi elektrifikasi otomotif yang disebutkan di atas.
Jika digabungkan dengan kerugian yang akan dicatat pada tahun fiskal berjalan, total kerugian diperkirakan maksimal mencapai 2,5 triliun yen atau 15,7 miliar dollar AS atau setara hampir Rp 267 triliun.
Honda sedang mengevaluasi kembali alokasi sumber dayanya di AS dan bertujuan untuk lebih memperkuat model hibridanya.
Selain pasar utamanya, yaitu Jepang dan AS, Honda mengatakan akan meningkatkan jajaran model dan daya saing harga di India, di mana ekspansi pasar diperkirakan akan terjadi.
Di negara-negara Asia lainnya, Honda akan berupaya meningkatkan daya saingnya dengan memperkenalkan model hibrida generasi berikutnya dan menilai kembali alokasi sumber dayanya.