Kondisi tersebut berpotensi memicu kelelahan, terutama bagi pengendara motor yang harus menunggu di tengah cuaca panas.
Di sisi lain, Kepolisian bersama sejumlah instansi terkait berupaya mengurai kepadatan kendaraan yang menuju pelabuhan.
Saat ini, penyeberangan Gilimanuk–Ketapang dilayani oleh 31 unit kapal roro.
Salah satu kapal juga menerapkan pola Tiba Bongkar Berangkat (TBB) di Pelabuhan Ketapang guna mempercepat proses bongkar muat kendaraan.
Petugas juga melakukan patroli berkala di sepanjang jalur antrean untuk mencegah kendaraan yang mencoba menyerobot antrean serta memastikan arus kendaraan tetap tertib.
Baca Juga: Nestapa Pekerja Jerambah Pelabuhan Gilimanuk, Sodorkan Karcis Rp 4.000 Dituding Pungli
Terkait kemacetan parah ini, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengatakan telah mengoptimalkan layanan penyeberangan di lintasan Ketapang-Gilimanuk seiring meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang angkutan Lebaran serta penutupan operasional penyeberangan saat Hari Raya Nyepi.
"Saat ini, sebanyak 35 kapal dioperasikan secara nonstop selama 24 jam untuk melayani arus kendaraan dan penumpang dari Bali menuju Jawa," kata Corporate Secretary PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Windy Andale, (15/3/26) dikutip dari Kompas.com.
Ia menuturkan peningkatan pergerakan kendaraan terjadi seiring tingginya mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik yang hendak menyeberang ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menjelang penutupan layanan penyeberangan saat Nyepi pada 18-20 Maret 2026.
"ASDP menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan sebagian pengguna jasa," tambahnya.
Untuk menjaga ritme layanan tetap optimal, ASDP melakukan penambahan 7 kapal dari pola operasional normal 28 kapal, sehingga saat ini total 35 kapal beroperasi bergantian selama 24 jam di lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Dengan armada yang bergerak nonstop, diharapkan kapasitas angkut meningkat sehingga proses penyeberangan dapat berlangsung lebih cepat dan antrean kendaraan dapat terurai secara bertahap.
Selain penambahan armada, enam kapal menerapkan pola operasional TBB (Tiba–Bongkar–Berangkat) guna mempercepat siklus layanan kapal di pelabuhan.
Kapal yang tiba langsung melakukan proses bongkar muatan dan kembali berlayar tanpa melakukan pemuatan kendaraan di pelabuhan tersebut.
Operasional lintasan Ketapang-Gilimanuk juga didukung 17 dermaga aktif, terdiri dari 9 dermaga di Pelabuhan Ketapang (4 MB, 3 LCM, 1 ponton, 1 Bulusan) dan 8 dermaga di Pelabuhan Gilimanuk (4 MB dan 4 LCM).
"Dermaga LCM difokuskan melayani kendaraan logistik guna menjaga kelancaran distribusi barang sekaligus memisahkan arus kendaraan besar dengan kendaraan penumpang," jelasnya.
Sebagai bagian dari percepatan layanan, Dermaga 3 Pelabuhan Ketapang diberlakukan pola penuh TBB sejak 15 Maret 2026 pukul 00.00 WIB, di mana kapal yang tiba hanya melakukan proses bongkar tanpa memuat kendaraan dari Ketapang.
ASDP juga disebutnya terus melakukan koordinasi intensif bersama seluruh pemangku kepentingan, termasuk KSOP, Kepolisian, TNI, dan pemerintah daerah, untuk mempercepat pengaturan operasional di lapangan serta memastikan pergerakan kendaraan di kawasan pelabuhan tetap terkelola dengan baik.
"Koordinasi lintas stakeholder terus kami lakukan secara intensif agar ritme operasional dapat dipercepat dan antrean kendaraan dapat tertangani dengan baik sehingga pelayanan kepada pengguna jasa tetap berjalan optimal," jelasnya.
Di sisi lain, ASDP mengimbau pengguna jasa untuk memantau informasi terkini terkait kondisi operasional pelabuhan melalui kanal resmi ASDP, salah satunya melalui media sosial @asdp191 @asdp.ketapang, sehingga masyarakat dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik.