Bukan Orang Sembarangan, Mengenal Ir Sedyatmo Yang Namanya Dipakai Jalan Tol

Irsyaad W - Selasa, 27 Januari 2026 | 14:00 WIB

Jalan Tol Ir Sedyatmo atau Tol Bandara Soekarno-Hatta

GridOto.com - Ada salah satu tokoh yang namanya dipakai jalan tol menuju Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Bukan orang sembarangan, beliau adalah Prof Dr Ir Sedyatmo.

Meski hampir setiap hari dilalui jutaan kendaraan, barangkali tak banyak orang yang mengetahui siapa sosok di balik nama ini, serta jasanya hingga namanya diabadikan menjadi nama jalan tol.

Ir Sedyatmo, atau Prof Dr Ir Sedyatmo, merupakan insinyur teknik sipil Indonesia yang dikenal sebagai pelopor teknologi konstruksi bangunan dan jalan di atas tanah lunak.

Inovasi-inovasinya masih digunakan hingga kini, terutama dalam pengembangan teknologi pondasi bangunan.

Mengutip Buku Prof Ir Sedyatmo Karya dan Pengabdian terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1984), Sedyatmo berasal dari keluarga priyayi bergelar raden mas yang lahir di Solo pada 24 Oktober 1909.

Pendidikan dasarnya ditempuh di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) milik Keraton Mangkunegaran, Solo.

Baca Juga: Rasa Penasaran Terjawab, Biaya Bangun Tiap Satu Kilometer Jalan Tol Butuh Biaya Segede Ini

Arsip Kompas
Prof Dr Ir Sedyatmo

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di MULO, lalu ke Algemeene Middelbare School (AMS) di Yogyakarta.

Hasratnya terhadap ilmu konstruksi bangunan membawanya melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu masih bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng.

Ia memilih jurusan teknik sipil dan mulai meniti karier profesional setelah lulus.

Pasca Indonesia merdeka, Sedyatmo berkiprah sebagai tenaga ahli di Departemen Perhubungan sejak 1945.

Salah satu gagasan pentingnya adalah pembentukan Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI), yang hingga kini masih beroperasi sebagai perusahaan transportasi milik negara.

Ia tercatat sebagai pimpinan pertama DAMRI pada periode 1946-1948.

Pada 1949, Sedyatmo kemudian dipindahkan ke Departemen Pekerjaan Umum dan terlibat dalam pengelolaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang kala itu berada di bawah naungan Departemen PU.

Baca Juga: Beda Sama Indonesia, Ini Asal Mula Jalan Tol di Negara Jerman Gratis

Di lingkungan baru tersebut, Sedyatmo semakin mengembangkan keahliannya di bidang teknik sipil, khususnya konstruksi bangunan.

PLN kala itu tengah membangun banyak pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Puncak karier Sedyatmo diraih ketika ia memperkenalkan sistem pondasi yang dikenal sebagai pondasi cakar ayam pada 1962.

Temuan ini menjadi terobosan besar dalam dunia teknik sipil, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.

Teknik pondasi cakar ayam memungkinkan pembangunan dilakukan di atas tanah lembek, sekaligus menekan biaya konstruksi dan mempercepat waktu pengerjaan.

Awalnya, sistem ini diterapkan pada pembangunan apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Surabaya.

Selanjutnya, teknologi tersebut digunakan pada landasan Bandara Polonia di Medan serta taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga: Sering Diucap, Ternyata Ini Asal Usul Kata JALAN TOL Yang Dipakai Indonesia Sejak 1970-an

Dok. PUPR
Prof Dr Ir Sedyatmo penemu pondasi cakar ayam yang kini sudah diakui dunia

Seiring waktu, sistem pondasi cakar ayam semakin dikenal dan diadopsi secara luas.

Inovasi Sedyatmo bahkan memperoleh paten di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman Barat, Jerman Timur, Denmark, dan Brasil.

Pondasi cakar ayam tidak hanya digunakan untuk bangunan gedung, tetapi juga jalan raya dan lapangan terbang.

Menurut Sedyatmo, biaya penggunaan sistem ini tidak lebih mahal dibandingkan pembangunan jalan raya berskala besar, seperti Jakarta Bypass.

Keunggulan lainnya, pondasi cakar ayam dapat diterapkan di tanah yang baik maupun tanah lembek, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap genangan air dan banjir.

Contohnya, sistem ini digunakan pada pondasi tiang listrik bertegangan tinggi di kawasan Tanjung Priok yang dibangun di atas bekas tambak ikan, sehingga seluruh struktur berada di bawah permukaan air.

Pondasi jalan dengan sistem cakar ayam juga terbukti mampu menahan beban kendaraan berat, termasuk truk dan trailer bermuatan besar.

Atas kontribusinya yang besar dalam pembangunan infrastruktur nasional, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo pada 1984.

Ia wafat pada 15 Juli 1984 dalam usia 74 tahun akibat penyakit tumor leher.

Sedyatmo juga dikenal dengan julukan 'Si Kancil' karena kecerdikannya dalam menemukan solusi teknis, khususnya pada sistem pondasi.

YANG LAINNYA