Hasratnya terhadap ilmu konstruksi bangunan membawanya melanjutkan studi ke Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat itu masih bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng.
Ia memilih jurusan teknik sipil dan mulai meniti karier profesional setelah lulus.
Pasca Indonesia merdeka, Sedyatmo berkiprah sebagai tenaga ahli di Departemen Perhubungan sejak 1945.
Salah satu gagasan pentingnya adalah pembentukan Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia (DAMRI), yang hingga kini masih beroperasi sebagai perusahaan transportasi milik negara.
Ia tercatat sebagai pimpinan pertama DAMRI pada periode 1946-1948.
Pada 1949, Sedyatmo kemudian dipindahkan ke Departemen Pekerjaan Umum dan terlibat dalam pengelolaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang kala itu berada di bawah naungan Departemen PU.
Baca Juga: Beda Sama Indonesia, Ini Asal Mula Jalan Tol di Negara Jerman Gratis
Di lingkungan baru tersebut, Sedyatmo semakin mengembangkan keahliannya di bidang teknik sipil, khususnya konstruksi bangunan.
PLN kala itu tengah membangun banyak pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Puncak karier Sedyatmo diraih ketika ia memperkenalkan sistem pondasi yang dikenal sebagai pondasi cakar ayam pada 1962.