Temuan ini menjadi terobosan besar dalam dunia teknik sipil, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di tingkat global.
Teknik pondasi cakar ayam memungkinkan pembangunan dilakukan di atas tanah lembek, sekaligus menekan biaya konstruksi dan mempercepat waktu pengerjaan.
Awalnya, sistem ini diterapkan pada pembangunan apron Pangkalan Udara TNI AL Juanda di Surabaya.
Selanjutnya, teknologi tersebut digunakan pada landasan Bandara Polonia di Medan serta taxiway dan apron Bandara Soekarno-Hatta.
Baca Juga: Sering Diucap, Ternyata Ini Asal Usul Kata JALAN TOL Yang Dipakai Indonesia Sejak 1970-an
Seiring waktu, sistem pondasi cakar ayam semakin dikenal dan diadopsi secara luas.
Inovasi Sedyatmo bahkan memperoleh paten di berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Perancis, Italia, Inggris, Belgia, Belanda, Jerman Barat, Jerman Timur, Denmark, dan Brasil.
Pondasi cakar ayam tidak hanya digunakan untuk bangunan gedung, tetapi juga jalan raya dan lapangan terbang.
Menurut Sedyatmo, biaya penggunaan sistem ini tidak lebih mahal dibandingkan pembangunan jalan raya berskala besar, seperti Jakarta Bypass.
Keunggulan lainnya, pondasi cakar ayam dapat diterapkan di tanah yang baik maupun tanah lembek, serta memiliki ketahanan tinggi terhadap genangan air dan banjir.
Contohnya, sistem ini digunakan pada pondasi tiang listrik bertegangan tinggi di kawasan Tanjung Priok yang dibangun di atas bekas tambak ikan, sehingga seluruh struktur berada di bawah permukaan air.
Pondasi jalan dengan sistem cakar ayam juga terbukti mampu menahan beban kendaraan berat, termasuk truk dan trailer bermuatan besar.
Atas kontribusinya yang besar dalam pembangunan infrastruktur nasional, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar kehormatan Mahaputra Kelas I kepada Sedyatmo pada 1984.
Ia wafat pada 15 Juli 1984 dalam usia 74 tahun akibat penyakit tumor leher.
Sedyatmo juga dikenal dengan julukan 'Si Kancil' karena kecerdikannya dalam menemukan solusi teknis, khususnya pada sistem pondasi.