GridOto.com - Cerita menggores hati terjadi di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Seorang ibu pasien sakit jantung tutup usia di bak mobil pikap pengangkut sekam padi.
Khotimah (43) tak mendapatkan layanan ambulans Puskesmas untuk mengantarkan ke RSUD Ajibarang.
Warga desa Banjaranyar, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas itu menghembuskan napas terakhir di atas bak mobil pikap yang menolongnya, (10/1/26).
Kisah ini menjadi viral di media sosial setelah diketahui pasien terpaksa dibawa menggunakan motor secara berboncengan tiga, lalu berpindah ke mobil pikap pengangkut sekam padi karena kondisinya semakin kritis.
Peristiwa bermula sekitar pukul 20.30 WIB saat Nurdiansyah (29), keponakan pasien, membawa Khotimah yang mengalami sesak napas ke Puskesmas Pekuncen 1 menggunakan motor.
Sesampainya di lokasi, petugas medis sempat memberikan bantuan oksigen.
Baca Juga: Pegawai Honorer Puskesmas Tak Tahu Diri, Bawa Ambulans Buat Angkut Barang Ilegal Ini
Namun, kepanikan mulai memuncak ketika pihak puskesmas menyatakan tidak sanggup menangani kondisi pasien dan menyarankan rujukan ke RSUD Ajibarang.
Nurdiansyah mengaku sempat meminta agar bibinya diantar menggunakan ambulans yang terparkir di depan puskesmas.
"Saya lihat ada ambulans dan bilang, 'sudah pakai ambulans saja'. Kemudian dari pihak puskesmas meminta agar pasien masuk lagi ke IGD, katanya mau dipasang infus dan oksigen lagi," ujar Nurdiansyah saat ditemui di kediamannya, (13/1/26) mengutip Kompas.com.
Meski sempat membawa masuk kembali pasien ke ruang IGD, Nurdiansyah merasa prosedur yang dijalankan terlalu lambat dibandingkan kondisi pasien yang kian melemah.
Ia bahkan sempat mendapat jawaban bahwa petugas harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak RS agar tidak 'diomeli'.
"Menurut saya, karena pasien sudah parah, tidak perlu prosedur lah. Kalau ada sopirnya, langsung bawa saja. Kondisinya sudah lemas dan sesak sekali," tegasnya.
Merasa tak ada kepastian, keluarga akhirnya memutuskan membawa Khotimah keluar dari puskesmas secara mandiri.
Baca Juga: Kerugian Rp 827 Juta, Ini Penjelasan Pemkab Aceh Utara Buntut 32 Motor Dinas dan Ambulans Lenyap
Khotimah dibonceng tiga menggunakan motor.
Namun, di tengah jalan, sekitar 3 kilometer dari puskesmas, Khotimah pingsan.
Keluarga kemudian memberhentikan sebuah mobil pikap bermuatan sekam padi yang melintas untuk meminta pertolongan.
Di atas bak terbuka itulah, disaksikan anaknya yang masih berusia 17 tahun, mulut Khotimah mulai mengeluarkan busa sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
"Sopirnya sampai tidak enak karena mobilnya bawa merang (sekam padi). Tapi mau nolong," kenang Nurdiansyah.
Menanggapi polemik tersebut, Kepala Puskesmas Pekuncen 1, dr. Dewi Astuti, memberikan klarifikasi.
Ia menyatakanpihaknya telah menjalankan prosedur stabilisasi pasien sesuai SOP penanganan penyakit jantung.
Baca Juga: Tertangkap Basah, Ambulans Dinas Pemkab Lebong Ditemukan Jadi Mobil Pejabat Esselon IV
"Tindakan yang dilakukan adalah berupa stabilisasi dengan memberikan oksigen, tensi dan pemeriksaan SPO2. Kami memberikan informasi kepada keluarga pasien harus distabilkan dulu dan berkoordinasi dulu dengan RSUD Ajibarang," jelas dr. Dewi, (13/1/26).
Menurut dr. Dewi, terdapat perbedaan persepsi antara petugas dan keluarga.
Petugas sedang menyiapkan proses rujukan, termasuk menghubungi rumah sakit tujuan agar tidak terjadi penolakan saat pasien tiba, namun keluarga merasa proses tersebut memakan waktu lama.
"Tudingan soal ketidaksiapan ambulans tidak benar. Sopir ready dan masing-masing sudah dengan sendirinya bekerja sesuai SOP," tambah perawat Nisrina Juli yang saat itu bertugas.
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Banyumas, dr. Anwar Hudiono, turut menyayangkan terjadinya insiden tersebut.
Ia menekankan pentingnya proses stabilisasi untuk menjaga jalan napas (airway) dan sirkulasi sebelum pasien dipindahkan.
"Jangan sampai nanti rumah sakit yang dituju itu ternyata penuh, terus kemudian dioper lagi, kan kasihan juga kalau seperti itu. Kami menyayangkan prosedur itu tidak disetujui oleh anggota keluarga," kata dr. Anwar.
Kini, Khotimah telah dimakamkan di Desa Banjaranyar. Ia meninggalkan suami yang bekerja di Kalimantan dan dua orang anak.
Kejadian ini menjadi sorotan tajam publik mengenai pentingnya komunikasi efektif antara fasilitas kesehatan dan keluarga pasien dalam situasi gawat darurat.