Menggores Hati, Serang Ibu Pasien Sakit Jantung Tutup Usia di Bak Mobil Pikap Sekam Padi

Irsyaad W - Jumat, 16 Januari 2026 | 16:10 WIB

Khotimah (43), seorang ibu pasien sakit jantung yang meninggal di bak mobil pikap karena tidak mendapat layanan ambulans di Puskesmas Pekuncen, Banyumas, Jawa Tengah (Irsyaad W - )

Keluarga kemudian memberhentikan sebuah mobil pikap bermuatan sekam padi yang melintas untuk meminta pertolongan.

Di atas bak terbuka itulah, disaksikan anaknya yang masih berusia 17 tahun, mulut Khotimah mulai mengeluarkan busa sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.

"Sopirnya sampai tidak enak karena mobilnya bawa merang (sekam padi). Tapi mau nolong," kenang Nurdiansyah.

Menanggapi polemik tersebut, Kepala Puskesmas Pekuncen 1, dr. Dewi Astuti, memberikan klarifikasi.

Ia menyatakanpihaknya telah menjalankan prosedur stabilisasi pasien sesuai SOP penanganan penyakit jantung.

Baca Juga: Tertangkap Basah, Ambulans Dinas Pemkab Lebong Ditemukan Jadi Mobil Pejabat Esselon IV

"Tindakan yang dilakukan adalah berupa stabilisasi dengan memberikan oksigen, tensi dan pemeriksaan SPO2. Kami memberikan informasi kepada keluarga pasien harus distabilkan dulu dan berkoordinasi dulu dengan RSUD Ajibarang," jelas dr. Dewi, (13/1/26).

Menurut dr. Dewi, terdapat perbedaan persepsi antara petugas dan keluarga.

Petugas sedang menyiapkan proses rujukan, termasuk menghubungi rumah sakit tujuan agar tidak terjadi penolakan saat pasien tiba, namun keluarga merasa proses tersebut memakan waktu lama.

"Tudingan soal ketidaksiapan ambulans tidak benar. Sopir ready dan masing-masing sudah dengan sendirinya bekerja sesuai SOP," tambah perawat Nisrina Juli yang saat itu bertugas.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan dan KB Kabupaten Banyumas, dr. Anwar Hudiono, turut menyayangkan terjadinya insiden tersebut.

Ia menekankan pentingnya proses stabilisasi untuk menjaga jalan napas (airway) dan sirkulasi sebelum pasien dipindahkan.

"Jangan sampai nanti rumah sakit yang dituju itu ternyata penuh, terus kemudian dioper lagi, kan kasihan juga kalau seperti itu. Kami menyayangkan prosedur itu tidak disetujui oleh anggota keluarga," kata dr. Anwar.

Kini, Khotimah telah dimakamkan di Desa Banjaranyar. Ia meninggalkan suami yang bekerja di Kalimantan dan dua orang anak.

Kejadian ini menjadi sorotan tajam publik mengenai pentingnya komunikasi efektif antara fasilitas kesehatan dan keluarga pasien dalam situasi gawat darurat.