“Jadi kebutuhan akan migas masih tetap dominan meski tren penggunaan listrik naik,” jelasnya.
Dr. Riyanto, Peneliti dari LPEM FEB UI menambahkan, industri migas bukan sekadar penyedia bahan bakar, tetapi penggerak ekonomi yang massif.
Setiap investasi di sektor ini akan menggerakkan sektor pendukung lainnya seperti manufaktur, jasa, transportasi secara signifikan.
Sebaliknya, menurutnya apabila sektor migas ini terganggu, maka berdampak pada sektor ekonomi lainnya.
Komaidi mengungkapkan ketahanan energi Indonesia bukan tentang memilih antara migas atau EBT, melainkan bagaimana mengoptimalkan migas terutama gas sebagai fondasi yang stabil sambil perlahan membangun infrastruktur energi terbarukan.
PERKUAT KEMAMPUAN LOKAL
Di tengah gejolak geopolitik, Indonesia diakui sebagai negara yang mampu mengelola ketahanan energi nasional.
Pengakuan ini diberikan Lembaga Keuangan JP Morgan yang menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 52 negara sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui kondisi energi nasional saat ini jauh dari ideal.
Baca Juga: Pertamina dan AS Pererat Kerja Sama Energi, Salah Satunya Bahas Impor Minyak Mentah
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR