GridOto.com - Pemerintah memperkirakan implementasi mandatori biodiesel B50 mampu memberikan penghematan devisa hingga Rp 157,28 triliun melalui pengurangan kebutuhan impor bahan bakar minyak (BBM).
Direktur Teknik dan Lingkungan Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Joko Hadi Wibowo, mengatakan angka tersebut merupakan estimasi yang dihitung berdasarkan potensi berkurangnya impor solar setelah penerapan B50 secara nasional.
"Untuk penghematan anggaran, ya untuk angkanya sendiri tadi saya sampaikan, ini perkiraan ya Pak. Perkiraan tadi untuk kebutuhan impor bahan bakar itu, penghematan devisa bisa mencapai Rp 157,28 triliun," ujar Joko dalam acara Clean Fuel Talk: Antara Manfaat dan Mudarat B50 yang digelar Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB), Jumat (3/7/2026).
Menurutnya, penghematan devisa tersebut dapat tercapai apabila kebutuhan bahan bakar diesel dipenuhi dari produksi dalam negeri, baik solar konvensional maupun biodiesel berbasis minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
"Artinya karena kita enggak impor lagi. Jadi solar-solar ini semua diproduksi di dalam negeri, baik solar berbasis minyak sawit dan solar konvensional," katanya.
Joko berharap kebutuhan impor solar dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga dana yang sebelumnya digunakan untuk membeli BBM dari luar negeri dapat dihemat.
"Mudah-mudahan sudah tidak ada impor lagi. Artinya kalau FAME-nya ada di dalam negeri, solar juga dari dalam negeri, artinya devisa yang sudah dihemat tadi sekitar Rp 157 triliun itu," jelasnya.
Selain mengurangi impor BBM, Joko menyebut implementasi B50 juga diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri.
Program tersebut juga diperkirakan memberikan nilai tambah bagi industri kelapa sawit nasional hingga Rp 24,68 triliun serta menyerap lebih dari 2,2 juta tenaga kerja.
Baca Juga: Solar B50 Dinilai Berisiko untuk Mesin Euro 4, Begini Penjelasannya
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR