BBM VS ENERGI BARU TERBARUKAN
Industri minyak dan gas bumi (migas) diproyeksikan akan tetap menjadi pilar utama ketahanan energi Indonesia setidaknya hingga tahun 2050.
Komaidi Notonegoro, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute mengatakan, meskipun dunia sedang bergerak menuju energi baru terbarukan (EBT), Migas masih menjadi nadi yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam proses transisi energi di Indonesia.
Ia menyebutkan volume konsumsi yang terus meningkat, meskipun persentase kontribusi migas dalam bauran energi nasional diproyeksikan turun menjadi sekitar 34-44% pada 2050 (sesuai RUEN), secara volume kebutuhan justru melonjak tajam.
Kebutuhan BBM saat ini sekitar 1,6 juta barrel per hari. Sementara produksi minyak mentah domestik hanya mampu menyuplai sekitar 610 ribu barel per hari.
“Ketergantungan impor sangat tinggi, hingga 60% untuk BBM atau 1 juta liter barrel per hari,” jelas Komaidi.
Komaidi mengatakan meski kondisi geopolitik saat ini terganggu akibat perang Iran VS Israel dan Amerika, namun pasokan impor BBM sejauh ini masih dalam kondisi aman.
“Ketersediaan impor yang melalui jalur Selat Hormutz hanya 20% dari total impor, jadi kalau melihat kondisi saat ini masih tetap aman. Pemerintah pasti telah melakukan langkah mitigasinya,” bilang Komaidi.
Terkait dengan tren shifting kendaraan menuju EV, ia melihat perpindahan ini sifatnya komplementer bukan subsitusi.
Baca Juga: Diawasi Ketat ESDM dan Lemigas, Pertamina Jamin Kualitas BBM Sesuai Standar
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR