Baca Juga: Kenalin Nih Xpeng GX, SUV Canggih yang Bukan Cuma 'Gede Badan Doang'
Di balik kecanggihannya, VLA 2.0 mengandalkan kombinasi empat elemen utama, yaitu model AI, daya komputasi, data, dan integrasi dengan kendaraan.
Xpeng bahkan mengembangkan chip sendiri bernama Turing, yang diklaim punya efisiensi tinggi dalam memproses data secara real-time.
Menariknya, Xpeng menegaskan bahwa performa tidak hanya ditentukan dari besar kecilnya angka komputasi, tapi seberapa efektif chip tersebut dimanfaatkan di dalam mobil.
“Ini bukan soal berapa banyak chip yang digunakan, tapi seberapa besar komputasi efektif yang benar-benar dirasakan pengguna,” tegas Ruizhe.
Selain itu, sistem ini juga didukung oleh teknologi simulasi bernama X World.
Lewat simulasi ini, XPENG bisa menguji berbagai skenario berkendara di dunia virtual, termasuk kondisi jalan di berbagai negara.
Artinya, pengembangan sistem tidak harus selalu bergantung pada data jalan nyata atau peta presisi tinggi.
“Kami tidak perlu mengumpulkan data lokal secara masif atau bergantung pada peta presisi tinggi untuk menghadirkan pengalaman ini,” tambah Ruizhe.
Meski begitu, XPENG tetap menegaskan bahwa saat ini sistem masih berada di level L2, sehingga pengemudi tetap harus siap mengambil alih kendali kapan saja.
Baca Juga: Tanggapan Presiden Xpeng Soal Kemungkinan SUV GX Masuk ke Indonesia
Ke depannya, teknologi seperti VLA 2.0 diyakini bakal jadi langkah penting menuju era mobil yang benar-benar bisa berjalan sendiri.
Dengan pendekatan berbasis AI dan data dalam skala besar, bukan tidak mungkin mobil masa depan akan semakin pintar, aman, dan terasa lebih 'manusiawi' saat digunakan.
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR