Pendekatan ini mencakup berbagai teknologi seperti Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Battery Electric Vehicle (BEV), hingga Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV).
Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azam, mengatakan penguatan produksi ini juga bakal berdampak ke ekosistem industri otomotif nasional.
“Proses ini secara bertahap memperkuat rantai pasok yang telah ada, dengan mengembangkan kapabilitas manufaktur kendaraan konvensional menjadi mampu memproduksi kendaraan elektrifikasi secara menyeluruh,” jelasnya.
Menariknya, Indonesia juga diproyeksikan jadi basis ekspor baterai Toyota ke pasar global mulai paruh kedua 2026.
Bukan cuma baterai yang sudah terpasang di mobil hybrid, tapi juga dalam bentuk komponen terpisah.
Baca Juga: Bukan Anak Emas Lagi, Ini Simulasi Pajak Mobil Listrik Yang Sudah Setara Toyota Avanza
Langkah ini sejalan dengan tren kendaraan elektrifikasi di Indonesia yang terus meningkat. Data GAIKINDO mencatat penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang 2025 mencapai 177.367 unit, naik 71 persen dibanding tahun sebelumnya.
Dari angka tersebut, hybrid masih jadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 76,5 persen dari total produksi.
Dengan kolaborasi ini, posisi Indonesia di rantai pasok global kendaraan elektrifikasi diprediksi bakal makin kuat, terutama di sektor baterai yang jadi komponen paling krusial.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR