"Jadi kalau dijumlahkan, sekitar 1 juta barrel atau 60 persen dari kebutuhan minyak kita, baik BBM maupun minyak mentah, berasal dari impor," katanya.
Fabby menilai ketergantungan ini menjadi titik lemah, terlebih di tengah konflik yang telah berlangsung lebih dari 45 hari di kawasan Timur Tengah.
Situasi tersebut turut mengganggu sebagian jalur distribusi impor BBM.
Akibatnya, meskipun pasokan dalam negeri masih aman untuk jangka pendek, ancaman kelangkaan tetap ada jika gangguan terus berlanjut.
"Jadi walaupun aman, tetapi riskan. Nah, karena itu makanya kita harus lebih bijaksana mengonsumsi BBM supaya tidak terjadi kelangkaan," ucapnya.
Dalam kondisi seperti ini, Fabby menekankan pentingnya peran semua pihak. Pertamina bertanggung jawab menjaga kelancaran distribusi, sementara pemerintah memastikan ketersediaan pasokan secara nasional.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan menyesuaikan pola konsumsi energi.
Baca Juga: Protokol di Selat Hormuz Diperketat, Begini Nasib Kapal Tanker Pertamina
Ia mengingatkan bahwa penggunaan BBM tidak bisa lagi disamakan dengan kondisi normal, karena berpotensi menambah tekanan pada pasokan.
"Pola kita membeli, mengonsumsi BBM juga harus berubah. Tidak seperti saat pasokan BBM itu normal, atau pasokan minyaknya normal. Jadi, lebih punya kesadaran diri sebenarnya," katanya.
Fabby juga mendorong langkah-langkah sederhana untuk menghemat BBM, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, beralih ke moda transportasi alternatif, serta menunda perjalanan yang tidak mendesak.
Ia mencontohkan bahwa perjalanan jarak jauh untuk rekreasi sebaiknya dikurangi dalam situasi seperti saat ini agar konsumsi BBM bisa ditekan.
"Hal-hal seperti perjalanan jauh yang tidak terlalu penting, itu bisa ditahan dulu. Intinya, kita harus lebih bijak dalam menggunakan BBM," pungkasnya.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR