Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Hindari Selat Hormuz, Hyundai Terpaksa Ubah Jalur Kapal Logistiknya Lewat Benua Ini

Ferdian - Minggu, 12 April 2026 | 10:50 WIB
Ilustrasi logo Hyundai
Thenewswheel.com
Ilustrasi logo Hyundai

GridOto.com - Efek perang di Timur tengah bergejolak dan ketatnya selat Hormuz, Hyundai Motor Company gerak cepat mengubah rute pengiriman kapalnya.

Pabrikan asal Korea Selatan ini mengalihkan rute pengiriman kapal melalui Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) untuk menghindari Selat Hormuz yang terganggu.

Imbasnya waktu tempuh dalam rantai pasok globalnya tentu bertambah.

Dalam wawancara 8 April dengan Bloomberg, CEO José Muñoz menyampaikan secara tegas alasannya: “Globalisasi sudah berakhir. Benar-benar sudah berakhir.”

Rute baru yang memutar melalui selatan Afrika akan menambah waktu pengiriman antara 10 hingga 15 hari untuk komponen yang dikirim dari Korea Selatan ke Eropa.

Jalur pasokan yang stabil ke Eropa sangat krusial bagi perusahaan ini, mengingat 82,8% dari total penjualan gabungan Hyundai dan Kia pada 2025 berasal dari pabrik di Korea Selatan.

Muñoz juga menyebutkan bahwa pihaknya tengah mengevaluasi solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan sourcing komponen langsung dari Eropa.

Namun, pemindahan sumber komponen ke Eropa bukan sekadar langkah darurat.

Baca Juga: Hyundai Recall Palisade 2026 di AS, Dipicu Anak Kejepit Jok Elektrik

Uni Eropa saat ini tengah mengarah pada kebijakan mirip USMCA yang mewajibkan kandungan lokal misalnya hingga 70% komponen kendaraan listriksehingga produksi lokal menjadi kebutuhan, terlepas dari konflik Iran.

Sejauh ini, Hyundai masih mampu menjaga volume produksi dengan memanfaatkan stok cadangan yang telah ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti industri otomotif lainnya, Hyundai belajar dari kerentanan rantai pasok “just-in-time” saat pandemi COVID-19 dan krisis semikonduktor.

Kini, keputusan rantai pasok yang dulu dibuat tahunan, berubah menjadi mingguan.

“Kami mencoba menyeimbangkan suplai dan permintaan, mengambil keputusan, dan memaksimalkan kapasitas produksi agar tidak kehilangan output,” ujar Muñoz melansir automotiveworld.com.

“Namun ini sulit. Tidak pernah sesulit sekarang.” 

Meski harga bahan bakar meningkat dan berpotensi mendorong permintaan kendaraan listrik, Hyundai tidak mempercepat rencana elektrifikasinya.

Bahkan, perusahaan baru-baru ini justru melonggarkan target tersebut.

Baca Juga: Hyundai Perkenalkan Konsep SUV Baru, Tampil Macho Bergaya Off-Road Amerika

Pabrik Hyundai di Georgia, yang awalnya dirancang khusus untuk memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) seperti Ioniq 5 dan Ioniq 9, kini juga akan memproduksi mobil hybrid dan model range-extended mulai 2027.

Fasilitas di Georgia tersebut juga akan mulai memproduksi versi modifikasi dari Ioniq 5 untuk armada robotaxi milik Waymo tahun ini, dengan volume yang diperkirakan mencapai puluhan ribu unit.

Ambisi Hyundai di pasar Amerika Serikat mencerminkan kekhawatiran Muñoz terhadap globalisasi: penggunaan rantai pasok domestik hingga 80% dan kapasitas produksi mencapai 1,2 juta unit per tahun.

Gangguan di Selat Hormuz, jika tidak segera teratasi, berpotensi berdampak besar pada industri manufaktur global, termasuk otomotif.

Korea Selatan termasuk negara yang cukup rentan, karena sekitar 70% impor naftanya berasal dari kawasan Teluk bahan baku penting untuk plastik otomotif dan karet sintetis.

Selain itu, pasokan helium untuk ruang bersih semikonduktor juga menurun tajam setelah kondisi force majeure diumumkan di fasilitas Qatar.

Harga aluminium pun ikut melonjak akibat pemangkasan produksi di smelter besar kawasan Teluk.

Baca Juga: Menarik, Mobil Bekas Hyundai Stargazer 2022, Harga Jadi Segini

Di tengah kondisi perdagangan yang penuh ketidakpastian, Muñoz masih melihat sedikit optimisme.

Ia mencatat bahwa penjualan kendaraan elektrifikasi pada kuartal pertama meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu, sebagian didorong oleh kenaikan harga bensin yang mempercepat minat konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan.

Namun, keberlanjutan tren ini masih belum pasti.

Di sisi lain, produsen otomotif China juga terus memperkuat posisi di pasar global kendaraan energi baru.

Awal bulan ini, BYD bahkan menaikkan target penjualan luar negeri 2026 dari 1,3 juta unit menjadi 1,5 juta unit.

Editor : Hendra

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa