Sejauh ini, Hyundai masih mampu menjaga volume produksi dengan memanfaatkan stok cadangan yang telah ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir.
Seperti industri otomotif lainnya, Hyundai belajar dari kerentanan rantai pasok “just-in-time” saat pandemi COVID-19 dan krisis semikonduktor.
Kini, keputusan rantai pasok yang dulu dibuat tahunan, berubah menjadi mingguan.
“Kami mencoba menyeimbangkan suplai dan permintaan, mengambil keputusan, dan memaksimalkan kapasitas produksi agar tidak kehilangan output,” ujar Muñoz melansir automotiveworld.com.
“Namun ini sulit. Tidak pernah sesulit sekarang.”
Meski harga bahan bakar meningkat dan berpotensi mendorong permintaan kendaraan listrik, Hyundai tidak mempercepat rencana elektrifikasinya.
Bahkan, perusahaan baru-baru ini justru melonggarkan target tersebut.
Baca Juga: Hyundai Perkenalkan Konsep SUV Baru, Tampil Macho Bergaya Off-Road Amerika
Pabrik Hyundai di Georgia, yang awalnya dirancang khusus untuk memproduksi kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) seperti Ioniq 5 dan Ioniq 9, kini juga akan memproduksi mobil hybrid dan model range-extended mulai 2027.
Fasilitas di Georgia tersebut juga akan mulai memproduksi versi modifikasi dari Ioniq 5 untuk armada robotaxi milik Waymo tahun ini, dengan volume yang diperkirakan mencapai puluhan ribu unit.
| Editor | : | Hendra |
KOMENTAR