Kenaikan ini dipicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan, terutama di kawasan Timur Tengah.
Meski Donald Trump memilih jalur negosiasi dengan Iran, langkah tersebut belum cukup untuk menenangkan pasar.
Melansir Kompas.com, harga minyak mentah AS jenis WTI naik sekitar 5,46 persen menjadi 99,64 dollar AS per barel, sementara minyak Brent menguat 4,22 persen ke 112,57 dollar AS per barel.
Angka ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022, saat konflik antara Rusia dan Ukraina mengguncang pasar energi global.
Salah satu faktor yang terus dipantau adalah situasi di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia. Ketegangan di wilayah ini membuat pasar tetap waspada.
Bahkan, dua kapal milik China Ocean Shipping Company (COSCO) sempat mencoba melintas, namun akhirnya berbalik arah karena kondisi yang dinilai belum aman.
Baca Juga: Di Tengah Konflik Global, Ini Hitung-hitungan Kebutuhan dan Pasokan BBM RI
Meski begitu, Trump menyebut beberapa kapal tanker masih berhasil melewati jalur tersebut, yang memberi sedikit harapan bahwa pasokan minyak belum sepenuhnya terganggu.
Analis menilai pasar minyak sejauh ini masih cukup kuat menghadapi situasi tersebut. Namun, kondisi ini diperkirakan tidak akan bertahan lama.
Jika ketegangan terus berlanjut, harga minyak bisa kembali bergejolak.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR