Baca berita tanpa iklan. Gabung Gridoto.com+

Thailand Menyerah, Harga BBM Hampir Mirip Pertalite Meroket Jadi Rp 20 Ribuan Per Liter

Irsyaad W - Jumat, 27 Maret 2026 | 13:25 WIB
SPBU PTT Station di Bangkok, Thailand
Radityo Herdianto / GridOto.com
SPBU PTT Station di Bangkok, Thailand

GridOto.com - Pemerintah Thailand akhirnya menyerah dengan harga minyak global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Otoritas setempat terpaksa menaikan harga BBM nasionalnya sebesar 6 baht atau setara sekitar Rp 3.090 (asumsi kurs Rp 515 per baht) per liter mulai hari Kamis, (26/3/26).

Alhasil salah satu BBM di Thailand yang hampir mirip Pertalite di Indonesia terpantau mengalami lonjakan fantastis, kini dijual Rp 20 ribuan per liter.

Melansir Bangkok Post, kenaikan signifikan ini terjadi setelah pemerintah Thailand memutuskan untuk menghentikan upaya pembatasan harga atau price cap yang dinilai terlalu membebani anggaran negara.

Keputusan Pemerintah Thailand untuk memangkas subsidi sendiri diumumkan Rabu malam, (25/3/26).

Akibat keputusan tersebut, antrean panjang kendaraan mulai membanjiri berbagai SPBU di seluruh penjuru negeri Thailand semalam suntuk.

Adapun warga bergegas menyerbu SPBU terdekat guna mengisi tangki kendaraan mereka sebelum harga baru berlaku efektif pada hari Kamis ini mulai pukul 05.00 pagi setempat, (26/3/26).

Perubahan kebijakan ini juga mengakibatkan harga solar naik drastis sebesar 18 persen, sementara jenis bahan bakar lainnya mengalami kenaikan yang lebih moderat.

Contohnya di salah satu SPBU PTT, harga bensin Gasohol RON 91 yang secara nilai oktannya hampir setara dengan RON 90 Pertalite di Indonesia kini dibanderol Rp 20.934 per liter.

Pemerintah Thailand menyatakan pada hari Rabu bahwa biaya untuk mempertahankan batas harga sudah terlalu mahal akibat kenaikan harga minyak dunia yang didorong oleh perang di Timur Tengah.

Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM

Sebagai gantinya, pemerintah akan menawarkan bantuan yang lebih terarah bagi kelompok yang paling terdampak, seperti konsumen kurang mampu, petani dan pengemudi truk.

Menteri Keuangan Thailand, Ekniti Nitithanprapas mengungkapkan kebijakan pembatasan harga selama ini telah memicu masalah di lapangan.

"Batas harga telah menyebabkan distorsi pasar, penimbunan, dan kerugian anggaran yang tidak perlu," kata Menteri Keuangan, Ekniti Nitithanprapas.

Meskipun subsidi masih diberikan melalui Dana Bahan Bakar Minyak, nilainya jauh lebih rendah dari sebelumnya.

Subsidi untuk high-speed diesel dan solar B20 dikurangi dari 26,99 baht (Rp 13.889) menjadi 19,12 baht (Rp 9.839) per liter.

Untuk Gasohol E20 turun dari 12,85 baht (Rp 6.612) menjadi 5,94 baht (Rp 3.056).

Sementara itu Gasohol 95 dan 91 yang sebelumnya disubsidi 9,73 baht (Rp5.007) kini hanya disubsidi 3,26 baht (Rp 1.677).

Sementara itu, subsidi sebesar 4,28 baht (Rp 2.202) untuk Gasohol E85 telah dihapus sepenuhnya.

Tingkat konsumsi solar di Thailand sendiri biasanya mencapai angka rata-rata 65 juta liter per hari.

Namun, sejak perang antara Iran dan Israel-AS terjadi, harga minyak terkerek dan konsumsi melonjak hingga antara 85 juta hingga 100 juta liter per hari.

Baca Juga: Demi Tekan Konsumsi BBM, Pemerintah Siapkan Jurus WFH Usai Lebaran

Fenomena penimbunan dalam skala besar menjadi penyebab utama ratusan SPBU kehabisan stok bahan bakar, meskipun pemerintah telah menjamin bahwa cadangan negara mencukupi.

Pemerintah Thailand juga mengklaim telah menguras anggaran 20 miliar baht atau sekitar Rp 10,29 triliun hanya dalam waktu tiga minggu demi menjaga harga tetap stabil.

Pejabat terkait sempat mempertimbangkan untuk melakukan pinjaman guna menutupi kerugian tersebut, namun akhirnya diputuskan bahwa langkah itu tidak berkelanjutan.

Ekonom Standard Chartered, Tim Leelahaphan, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pemerintah Thailand saat ini hanya memiliki sisa ruang pinjaman sekitar 300 miliar baht atau setara Rp 154,3 triliun.

Sebagai perbandingan, selama krisis energi tahun 2022 yang dipicu oleh invasi Rusia ke Ukraina, Thailand menghabiskan 270 miliar baht atau setara Rp 138,9 triliun untuk subsidi bahan bakar dan pemotongan pajak.

Berikut rincian harga BBM terbaru di SPBU PTT Thailand beserta konversi rupiahnya:

High-speed diesel: 38,94 baht (Rp20.038)

B7 premium diesel: 54,64 baht (Rp28.118)

Gasohol 91 (Setara Pertalite): 40,68 baht (Rp20.934)

Gasohol 95: 41,05 baht (Rp21.124)

Gasohol E20: 36,05 baht (Rp18.551)

Gasohol E85: 32,79 baht (Rp16.874)

Gasohol 95 premium: 52,04 baht (Rp26.780)

Gasoline 95: 49,64 baht (Rp25.545)

Editor : Hendra

Sobat bisa berlangganan Tabloid OTOMOTIF lewat www.gridstore.id.

Atau versi elektronik (e-Magz) yang dapat diakses secara online di : ebooks.gramedia.com, myedisi.com atau majalah.id



KOMENTAR

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

YANG LAINNYA

loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA
Close Ads X
yt-1 in left right search line play fb gp tw wa