GridOto.com - Perjalanan bisnis otomotif di Indonesia sepanjang 2025 meninggalkan kisah menarik. Kerasnya tekanan terhadap pasar mobil baru, tak menimpa semua brand.
Sebab, omset bisnis alas karet ini justru meningkat. Setidaknya ini laporan Bridgestone.
Artinya, ada kantong-kantong keuntungan yang masih bisa dirogoh selain dari menyuplai pabrikan mobil.
Hanya saja ini laporan Bridgestone. Secara umum penjualan ban berada dalam tekanan. Sehingga volume turun tipis.
Bisnis ban mobil di Tanah Air pun kembang kempis. Ada yang mengembang ada yang menipis.
Tak heran, di tengah ketatnya persaingan antarbrand ban mobil, masih ada merek lain yakni Sailun yang bersemangat untuk menceburkan diri di sektor ini.
Perhitungannya jelas, angka investasi sudah ditetapkan, target sudah dikunci, selanjutnya menjalankan roda pabrik dan penjualan.
Ini tentu kabar segar karena Indonesia masih dianggap memiliki potensi besar.
Bukan itu saja, pemilik merek bisa mengintegrasikan supply chain di dalam negeri. Bahan baku, produksi hingga distribusi semua berproses di dalam negeri.
Baca Juga: Ekonomi Jadi Tantangan Industri Ban, Ini Kata Bridgestone Indonesia
Artinya, pondasi bisnis yang dijalankan kuat dan ditujukan pada strategi jangka panjang.
Penerapan teknologi, peningkatan competitiveness atau kemampuan menghasilkan produk dan layanan yang unggul, membawa keuntungan tersendiri bagi konsumen.
Karena kalau sudah begini, investor tak hanya menggelindingkan produk tapi juga membangun trust. (Iday)
Stabilitas Ekonomi Tantangan Industri Ban
Industri ban nasional masih menghadapi sejumlah tantangan di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
Meski begitu, PT Bridgestone Tire Indonesia tetap optimistis pasar ban Tanah Air akan tumbuh positif, seiring dengan strategi penyesuaian produk dan layanan yang semakin relevan dengan kebutuhan konsumen.
Presiden Direktur Bridgestone Indonesia, Mukiat Sutikno, mengatakan tantangan utama industri ban saat ini berasal dari kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.
Namun, ia menegaskan fokus perusahaan bukan semata pada tekanan eksternal, melainkan bagaimana menjawab kebutuhan pasar secara tepat.
Baca Juga: Pasar Ban Mobil Indonesia Tumbuh, Bridgestone Ungkap Strategi Hadapi 2026
“Tantangan terbesar adalah perubahan ekonomi, namun fokus kami adalah bagaimana menghadirkan produk dan layanan toko retail yang sesuai dengan permintaan konsumen,” ujar Mukiat kepada OTOMOTIF, Jumat (23/1/2026).
Di tengah tantangan tersebut, industri ban nasional dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan. Mukiat menyebutkan, sepanjang 2025 industri tumbuh di kisaran 4 hingga 5 persen secara tahunan.
Pertumbuhan ini ditopang oleh pasar ban mobil penumpang dan kendaraan niaga, baik untuk kebutuhan original equipment manufacturer (OEM) maupun replacement.
“Ban mobil passenger dan komersial baik untuk market replacement dan OEM tetap menjadi andalan bagi Bridgestone Indonesia,” katanya.
Selain pasar domestik, Bridgestone Indonesia juga masih mengandalkan ekspor sebagai penopang kinerja bisnis.
Saat ini, produk ban Bridgestone dari Indonesia telah diekspor ke lebih dari 70 negara, sehingga membantu menjaga keseimbangan bisnis di tengah fluktuasi pasar dalam negeri.
Mukiat juga menilai masuknya merek-merek ban baru ke Indonesia bukan semata ancaman bagi pemain lama.
Menurutnya, persaingan justru dapat memberikan dampak positif bagi industri secara keseluruhan.
“Kami meyakini bahwa hadirnya merek ban baru akan membawa dampak positif dengan membuka lebih banyak lapangan kerja serta memberikan konsumen pilihan ban yang lebih beragam di pasar,” pungkasnya. (Wisnu)
Baca Juga: Dampak Mobil Listrik ke Industri Ban, Ini Pandangan Bridgestone
Strategi Sailun di Tengah Kompetisi Ban
Sailun Group baru saja meresmikan pabrik mereka di Indonesia, yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah, Minggu (18/1/2026).
Kehadiran pabrikan ban anyar Sailun Group di Indonesia membuat persaingan pasar semakin ketat.
Guna bertahan di pasar Tanah Air, PT Sailun Tire Indonesia membeberkan strategi yang disiapkan untuk berkompetisi dengan pemain lain di pasar ban nasional.
Direktur Sales & Marketing PT Sailun Tire Indonesia, Eko Supriyatin, menjelaskan bahwa langkah awal perusahaan dimulai dari penguatan produk.
Menurutnya, kualitas menjadi faktor utama untuk membangun kepercayaan konsumen terhadap merek yang masih tergolong baru.
“Mulai produknya dulu. Produk kami berkualitas. Kemudian teknologi kami akan terus ter-update mengikuti penyesuaian terhadap kebutuhan pasar, dan semua segmen pasar,” ujar Eko di Semarang, Sabtu (17/1/2026).
Selain produk, Sailun juga menaruh perhatian besar pada perluasan jaringan distribusi. Jaringan yang luas dinilai penting agar produk mudah dijangkau konsumen sekaligus mempercepat respons terhadap dinamika pasar.
Baca Juga: Sailun Group Resmikan Pabrik di Indonesia, Siap Jadi Basis Asia Tenggara
“Yang kedua adalah jaringan. Jaringan kami dengan partner yang cukup luas,” lanjutnya.
Saat ini, Sailun telah bekerja sama dengan sekitar 30 distributor di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui jaringan tersebut, perusahaan berupaya menjaga kedekatan dengan konsumen, sekaligus memastikan suplai produk berjalan cepat dan stabil.
“Yang pasti setidaknya distributor kami tetap dekat dengan konsumen, dengan supply yang cepat, mendengarkan selera konsumen yang cepat. Target improvement juga dengan cepat,” kata Eko.
Dengan mengandalkan kualitas produk, pembaruan teknologi, serta jaringan distribusi yang terus diperluas, Sailun optimistis dapat bersaing di tengah ketatnya pasar ban Indonesia yang saat ini dipenuhi berbagai merek lokal maupun global. (Naufal)
Optimis Melalui Segmen Replacement
Pasar domestik ban nasional tahun lalu tertekan seiring dengan penurunan penjualan mobil baru nasional.
Seperti diketahui capaian produksi mobil pada 2025 tercatat 803 ribu unit, atau turun 7 persen dibanding tahun sebelumnya.
Aziz Pane, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) menjelaskan, masalah utama yang dihadapi industri ban nasional bukan hanya dari sisi produksi.
Baca Juga: Jadi 'Anak Baru', Begini Strategi Sailun Bersaing di Pasar Ban Indonesia
“Tetapi juga akibat melemahnya permintaan dan tantangan global,” katanya dikutip dari kontan.com
Namun demikian, pada 2026 ini, peluang pertumbuhan tetap terbuka. Untuk pangsa OEM sendiri memang belum diketahui, lantaran hingga saat ini GAIKINDO (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) belum menentukan berapa target penjualan di 2026.
“Belum ditentukan, nanti setelah ketemuan dengan produsen mobil,” ungkap Jongkie Sugiarto, Ketua 1 GAIKINDO.
Namun, pasar secara keseluruhan akan tetap berprospek baik, terutama dari segmen replacement di mana relatif tahan terhadap tekanan daya beli.
Kebutuhan dasar pemeliharaan kendaraan dinilai tetap menjadi penopang utama industri ban.
Sejumlah faktor diproyeksikan menjadi pendorong kinerja perseroan, mulai dari portofolio produk yang beragam, optimalisasi efisiensi produksi, hingga penguatan jaringan distribusi. (Hend)
Artikel ini telah tayang di Tabloid OTOMOTIF Edisi 38-XXXV 29 Januari 2026
| Editor | : | Naufal Nur Aziz Effendi |
KOMENTAR