Menurut Ujang, hasil monitoring menunjukkan peningkatan Recovery Ratio, yakni kemampuan sistem memulihkan antrean kendaraan lebih cepat dibanding lampu lalu lintas konvensional.
Saat ini, sistem ITCS telah diterapkan di 115 simpang dari total 321 simpang bersinyal di Jakarta.
Itu berarti sekitar 35,8 persen simpang di Jakarta telah menggunakan AI.
Penentuan lokasi pemasangan mengutamakan area pusat kota dan jalur keluar-masuk provinsi, serta mempertimbangkan pembangunan infrastruktur agar sistem berjalan terintegrasi antar-simpang.
"Pemilihan lokasi mempertimbangkan rencana pembangunan infrastruktur untuk menjamin keberlangsungan sistem, serta memprioritaskan pengembangan jaringan ITCS yang sudah ada guna menciptakan koordinasi antar-simpang yang terintegrasi secara menyeluruh," papar Ujang.
Ujang juga menyoroti tantangan selama implementasi, termasuk gangguan infrastruktur akibat pekerjaan jalan dan aksi vandalisme yang merusak kabel lampu lalu lintas.
Baca Juga: Bak Wilayah Tanpa Aturan, Lampu Merah di Jalur Tengkorak Cilincing Tak Ada Harga Dirinya
Meski begitu, sistem yang dipantau secara terpusat melalui Network Operation Center (NOC) ini mampu memperbarui data dan menyesuaikan parameter secara otomatis tanpa jeda waktu.
Perbandingan dengan kawasan BSD menunjukkan sistem ITCS Jakarta lebih kompleks karena menangani arus kendaraan masif dari wilayah penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Sistem ini tidak hanya responsif di satu titik, tapi terkoordinasi, saling terhubung, sehingga arus lalu lintas lebih lancar secara keseluruhan.
Dengan ITCS, DKI Jakarta berharap bisa menekan kemacetan, efisiensi bahan bakar, dan emisi karbon.
| Editor | : | Panji Nugraha |
KOMENTAR