Lalu ASC mengontrol putaran mesin dan mengerem ban yang slip agar tidak terjadi understeer atau oversteer.
Kemudian AYC menyempurnakannya dengan menjaga momentum kecepatan dan putaran kemudi dengan sistem pengereman AYC.
Kok pengereman? Iya karena AYC bekerja dengan memanfaatkan sistem pengereman yang spesifik.
Saat mobil menikung di permukaan licin dan berpotensi understeer, AYC akan mengerem di roda depan bagian dalam tikungan.
Misal sedang membelok cepat ke kanan, maka roda depan kanan akan direm oleh AYC dan dengan sendirinya bagian belakang mobil akan ‘terdorong’ ke kiri.
Dengan begitu arah mobil akan terkoreksi dan mengikuti garis belok yang diinginkan pengemudi.
Hasilnya, dengan mobil yang lebih terkendali maka secara otomatis nilai keselamatan akan terjaga dan penumpang lebih aman.
Meski terkesan sederhana karena cukup dengan melakukan pengereman, tapi sistem kerja AYC sebenarnya cukup kompleks.
AYC membutuhkan 4 variabel yaitu wheel speed sensor, steering angle, putaran mesin, dan rem.
Baca Juga: Tarung MPV Hybrid 2026, Ini Perbandingan Spek Veloz dan Xpander HEV
Dengan 4 item itu, sistem AYC akan mendeteksi apakah putaran mesin terlalu kencang, atau sudut setir terlalu patah, atau putaran bannya yang terlalu cepat. Dan itu semua dieksekusi oleh sistem AYC dengan sangat cepat di hitungan sepersekian detik.
Saat kami menguji Mitsubishi Xpander Ultimate, terasa bahwa kinerja AYC efektif dan halus. Kami sengaja memacu kencang di tikungan, tapi AYC dapat menangani gaya agresif kami dan menjaga arah mobil sesuai input setir.
Semakin kencang putaran roda dan putaran mesin saat masuk tikungan, atau semakin patah putaran setir saat membelok, maka semakin keras pula kerja AYC membantu pengemudi agar mobil tetap di jalur yang benar.
Enaknya, kinerja dan intensitas pengereman AYC itu terpampang di layar instrumen yang besar di depan pengemudi.
Sehingga berkat indikator AYC yang aktual itu, kami sebagai pengemudi pun jadi lebih waspada untuk mengantisipasi beragam situasi.
| Editor | : | Trybowo Laksono |
KOMENTAR