Ortu Lalai Awasi Kunci, Bocah 11 Tahun Bawa Pikap Hingga Renggut Nyawa 9 Biksu

Ferdian - Sabtu, 4 Juli 2026 | 10:00 WIB

Pikap yang dibawa bocah 11 tahun hingga tabrak rombongan biksu dan renggut 9 nyawa

GridOto.com - Sebuah insiden menyedihkan terjadi di Thailand belum lama ini tepatnya pada Kamis (2/7).

Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun nekat mengemudikan pikap milik orang tuanya hingga berakhir tragedi.

Bagaimana tidak, pikap tersebut menabrak rombongan biksu Buddha yang sedang berjalan di pinggir jalan.

Akibatnya, sembilan orang biksu dilaporkan tewas dan kurang lebih 10 lainnya mengalami luka parah.

Melansir channelnewsasia, peristiwa ini terjadi di Provinsi Mukdahan, wilayah timur laut Thailand.

Saat itu, rombongan yang terdiri dari 35 biksu dan lima umat awam sedang melakukan perjalanan ritual keagamaan (ziarah) dengan berjalan kaki di bahu jalan.

Salah satu biksu yang selamat, Phra Sompong, menceritakan momen mengerikan tersebut dalam sebuah video yang diunggah oleh tim penyelamat setempat.

"Saya melihat ada mobil pikap yang dikendarai seorang anak laki-laki mendekat. Waktu itu, saya sedang merapal mantra meditasi 'Buddho, Buddho'," ujar Phra Sompong.

Baca Juga: Tergiur Tawaran Modal Usaha Rp 80 Juta, Honda CR-V dan Mobil Pikap Warga Bantul Justru Amblas

"Lalu tiba-tiba saja, mobil itu melaju kencang dan langsung menabrak kami. Beruntung, saya dan seorang biksu lainnya sempat melompat dan menghindar tepat waktu," lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sembilan biksu yang berjalan di barisan paling depan berhasil selamat, namun rekan-rekan di belakang mereka terpental ke udara akibat hantaman keras tersebut.

Pihak kepolisian melaporkan bahwa lima biksu tewas seketika di lokasi kejadian, sementara tiga lainnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit.

Tak lama kemudian, Kantor Pemerintah Provinsi Mukdahan mengonfirmasi bahwa korban jiwa bertambah setelah biksu kesembilan dinyatakan meninggal dunia.

Selain korban tewas, otoritas kesehatan menyatakan ada empat biksu dalam kondisi kritis dan 10 lainnya luka parah.

Beberapa korban lainnya juga masih dirawat karena mengalami luka ringan.

Rekaman CCTV dari bangunan di sekitar lokasi memperlihatkan rombongan biksu tersebut sedang berjalan tertib.

Beberapa kendaraan tampak melintas normal sebelum akhirnya terdengar suara benturan yang sangat keras, yang seketika menghentikan langkah rombongan tersebut.

Baca Juga: Petaka Buru-buru Dipanggil Bapak, Seisi Rumah, Motor dan Suzuki Carry Pikap Ludes Jadi Arang

Hasil penyelidikan awal polisi mengungkapkan bahwa bocah tersebut membawa kabur mobil orang tuanya tanpa izin, lalu kehilangan kendali hingga menabrak para biksu.

"Pengemudi yang merupakan anak berkebutuhan khusus berusia 11 tahun ini membawa pikap dari rumahnya dan sempat menyetir sejauh 10 kilometer sebelum akhirnya menabrak rombongan biksu," jelas Kepala Polisi Provinsi Mukdahan, Jenderal Polisi Pairoj Thaiphutra.

"Saat ini kendaraan sudah diamankan untuk pemeriksaan forensik guna memastikan penyebab pasti kecelakaan. Kami juga sudah memanggil orang tua anak tersebut untuk dimintai keterangan terkait tanggung jawab pengasuhan, sehingga proses hukum bisa terus berjalan," tambahnya.

Meski begitu, polisi belum menetapkan tuntutan apa pun karena masih menyelidiki kronologi lengkapnya.

Bocah tersebut juga belum bisa dimintai keterangan karena masih dalam kondisi syok berat.

Sebagai informasi, hukum di Thailand mengatur bahwa anak di bawah usia 12 tahun bebas dari tuntutan pidana.

Gubernur Provinsi Mukdahan, Worayan Bunnarat, menegaskan bahwa tragedi ini harus menjadi peringatan keras bagi masyarakat luas terkait keselamatan berkendara.

Baca Juga: Mujur, Suzuki Carry Pikap Dimaling dan Kembali Dalam Kondisi Lebih Mulus Dari Sebelum Dicuri

Thailand sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan rekor keselamatan jalan raya terburuk di dunia.

Kasus kecelakaan maut sangat sering terjadi akibat faktor ngebut, mengemudi dalam kondisi mabuk, serta lemahnya penegakan hukum.

"Kami sebenarnya sudah sangat ketat soal keselamatan jalan raya beberapa tahun terakhir ini. Kasus ini harus menjadi pelajaran berharga, bukan cuma untuk provinsi kami, tapi untuk masyarakat luas dalam mencegah kecelakaan," kata Worayan.

"Saya rasa semua pihak, khususnya orang tua, harus lebih peduli dan ikut membantu (mengawasi anak-anak), karena tentu tidak ada satu pun dari kita yang ingin hal tragis seperti ini terjadi," pungkasnya.

YANG LAINNYA