Model ini dinilai mampu mengubah bisnis ekspor dari sekadar penjualan satu kali menjadi layanan jangka panjang yang menghasilkan pendapatan berkelanjutan.
Bagi perusahaan, model ini juga memungkinkan mereka mendapatkan insentif pajak ekspor dan menjaga arus kas tetap sehat.
Selain itu, mereka tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk membangun pabrik atau fasilitas produksi di negara tujuan.
Sementara bagi konsumen, biaya untuk memiliki kendaraan menjadi lebih ringan karena tidak perlu membayar penuh di awal.
Hal ini dinilai cocok untuk negara-negara yang sistem pembiayaan otomotifnya masih berkembang.
Selain memperoleh pendapatan dari biaya sewa, perusahaan juga bisa menawarkan layanan tambahan seperti perawatan kendaraan, asuransi, hingga manajemen armada.
Baca Juga: KM 31 Tol Jagorawi Mencekam, BMW Putih Bikin Mobil China Jetour T2 Mental dan Meledak Terbakar
Meski menjanjikan, model bisnis ini tetap memiliki tantangan, terutama terkait pengelolaan aset, penilaian risiko kredit, hingga penarikan kendaraan jika terjadi gagal bayar.
Karena itu, sebagian besar perusahaan saat ini lebih fokus menyasar pelanggan korporasi atau B2B, seperti operator taksi online dan perusahaan penyewaan kendaraan.
Salah satu perusahaan leasing asal China, Huasheng, diketahui telah menjalankan bisnis serupa di Uzbekistan dan Afrika Selatan.
Perusahaan tersebut juga berencana menjadikan Pakistan sebagai pusat pengembangan berikutnya.
Menurut sumber internal yang dikutip National Business Daily, lebih dari 30 pabrikan otomotif China telah menunjukkan minat terhadap model bisnis ini.
Beberapa di antaranya adalah Dongfeng, Chery, GAC, dan BAIC.