GridOto.com – Di tengah gegap gempita mobil Tiongkok yang identik dengan elektrifikasi, Jetour T2 memilih jalan berbeda yang justru membuatnya terasa familiar.
Yes, kebanyakan SUV dari negeri Tirai Bambu menerapkan sistem elektrifikasi baik hybrid maupun mobil listrik. Itu wajar karena trennya memang ke arah sana, yakni mobil elektrifikasi yang semakin lama makin diterima di Indonesia.
Namun yang dilakukan Jetour dengan T2, berbeda.
Ia merupakan SUV bermesin bakar murni atau internal combustion engine (ICE) yang punya orientasi pada kemampuan jelajah di medan yang susah.
Fakta tersebut justru cocok dengan konsumen yang antusias dengan mesin bakar, yang tak mau dibikin cemas soal durabilitas baterai di sistem elektrifikasi.
Baca Juga: Paling Banyak Dijajal Pengunjung, Jetour T2 Jadi Bintang Test Drive di IIMS 2026
Dan konsumen yang suka dengan mobil ICE murni itu masih banyak di Indonesia. Termasuk kelas Large SUV yang diisi oleh nama-nama besar seperti Toyota Fortuner dan Mitsubishi Pajero Sport.
Kenapa dibandingkan dengan Fortuner dan Pajero Sport? Karena secara postur mereka seukuran.
Dimensi Jetour T2 adalah 4.785x2.006x1.880 mm dan wheelbase 2.800 mm, sedangkan Toyota Fortuner ada di 4.795x1.855x1.835 mm dengan wheelbase 2.745 mm.
Artinya dibanding Toyota Fortuner misalnya, Jetour T2 hanya lebih pendek 10 mm namun lebih lebar dengan wheelbase lebih panjang 55 mm.
Di sisi lain, penggunaan mesin bensin memberi Jetour T2 keuntungan yakni laju yang lebih nyaman berkat dapur pacu yang lebih halus dan hening.
Mesin 2.000 cc turbo itu mengeruk hingga 245 ps (242 dk) dengan torsi yang memuntir hingga 375 Nm sejak 1.750 rpm.
Semua potensi itu lalu disalurkan ke semua roda (AWD) dengan transmisi kopling ganda 7-percepatan. Betul, transmisi dual clutch yang sering dipakai mobil-mobil sport itu juga digunakan oleh Jetour sang SUV petualang.
Baca Juga: Intip Detail Jetour T2 Versi Obsidian Ultra Kit, Segini Harganya!
Saat kami uji 0-100 km/jam, Jetour T2 menuntaskannya dalam 8,4 detik, lebih kencang dari Toyota Fortuner 2.8 GR Sport 4x4 yang perlu 10,3 detik.
Saat tidak full throttle pun Jetour T2 tetap menyenangkan. Di mode manual, perpindahan gigi (shifting) terasa sigap khas kopling ganda. Terlebih dengan posisi tuas transmisi yang ada di tengah konsol-bukan di kolom setir seperti beberapa SUV Tiongkok, rasanya sangat intuitif.
Terlepas dari akselerasi kencang dan shifting cepat, ada harga yang harus dibayar dari kecekatan Jetour T2.
Transmisi kopling ganda punya problem khas yaitu terasa kikuk di kecepatan rendah, dan itu juga terjadi di Jetour T2.
SUV 5 penumpang ini jadi terasa tidak nyaman saat merayap di kemacetan yang sayangnya sering ditemui di kota besar seperti Jakarta.
Jetour T2 seperti butuh putaran mesin yang agak tinggi untuk sekadar start dari diam. Buat pengemudi yang terbiasa dengan transmisi hidraulis apalagi CVT, sepertinya akan butuh penyesuaian dengan karakter girboks DCT (dual clutch transmission) ini.
Tapi begitu kami masuk ke jalan jelek alias off-road, barulah terlihat kalau Jetour menunjukkan wajah sumringah.
Betapa tidak, T2 adalah mobil yang paling siap offroad, setidaknya di antara 14 mobil yang ikutan program Parade Chindo ini.
Lihat saja bannya, menggunakan jenis AT (all-terrain) yang menjaga traksinya di medan licin. Sistem penggeraknya pun sudah menggunakan locker untuk menghadapi rintangan yang lebih sulit.
Baca Juga: Parade Chindo, Strategi Menangi Pasar Mobil Cina 'Bantai Harga '
Dibekali mode berkendara Normal, Eco, Sport, Snow, Mud, Sand, Rock, dan X Smart Mode, kami pilih X Smart Mode saat masuk ke pengujian offroad.
Di X Smart Mode, sistemnya secara pintar mengatur pembagian torsi di semua roda agar traksi terjaga.
Tak sulit bagi Jetour T2 melewati obstacle mulai dari lumpur, tanjakan curam, hingga cekungan tanah yang memaksa salah satu atau 2 ban menggantung.
Di situasi roda menggantung yang artinya kehilangan traksi, locker seperti obat mujarab yang membuat mobil bisa tetap melaju.
Kami pun suka dengan sudut-sudut krusial di Jetour T2. Dengan approach angle 39 derajat, departure angle 33 derajat, dan ramp angle 25 derajat, sangat jarang bumper mentok meski melewati tanjakan atau turunan yang terjal.
Bisa kami bilang, dengan bodi monokok, mesin bertenaga, dan transmisi responsif, Jetour T2 terasa sigap dan nyaman di on-road. Lalu dengan locker pada sistem penggerak, sudut-sudut sasis yang proper, dan mode berkendara X Smart Mode yang pintar, Jetour T2 juga terasa kapabel di off-road.
Bonusnya, meski SUV Tiongkok kini sudah banyak yang berwajah rupawan, tapi charisma Jetour T2 terasa lebih jantan dari yang lain.
Bodi mengotak, fender besar, dan ban AT membuatnya terlihat lebih macho. Apalagi posturnya juga tinggi, menegaskan wibawanya saat bumper to bumper dengan mobil lain di keramaian.
Pastinya, derum mesin bakar, dorongan saat transmisi berpindah gigi, dan sistem operasional yang mudah membuat Jetour T2 terasa familiar dengan masyarakat Indonesia.
Diset dengan harga jual Rp 588 juta, kami yakin Jetour T2 punya kesempatan untuk memikat konsumen SUV terutama bagi mereka yang membutuhkan kapabilitas riil di beragam medan.