Konsumen dinilai ingin menghindari dampak kenaikan harga BBM yang dipicu konflik tersebut.
Cui juga menyebut bahwa produsen otomotif China memiliki peluang besar memperluas pasar global di tengah situasi krisis, termasuk saat gangguan di Selat Hormuz.
Ia menambahkan, kondisi ini mengingatkan pada krisis minyak pada 1970-an, ketika masyarakat beralih ke kendaraan yang lebih hemat energi.
Meski ekspor meningkat, pasar domestik otomotif China justru tengah mengalami penurunan.
Penjualan Tesla di Shanghai misalnya, tercatat turun 24 persen secara bulanan, meskipun secara tahunan masih tumbuh 9 persen.
Sementara itu, penjualan BYD di dalam negeri merosot lebih dari 40 persen.
Secara keseluruhan, penjualan kendaraan listrik dan hybrid di pasar domestik China turun 14 persen menjadi 848.000 unit pada Maret.
Baca Juga: Changan Kembangkan Baterai Mobil Listrik Sodium Ion, Apa Kelebihannya?
Data ini mencerminkan kondisi setelah pemerintah mengurangi subsidi program tukar tambah kendaraan, yang berdampak pada turunnya penjualan sedan dan hatchback sampai 25 persen.
Cui menilai, penurunan daya beli masyarakat serta meningkatnya biaya turut menekan permintaan.
Meski begitu, kendaraan energi baru masih menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan mobil berbahan bakar konvensional.
Sebagai informasi, lonjakan harga minyak dunia terjadi setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Konflik tersebut berlangsung sekitar satu bulan dan sempat menyebabkan penutupan Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global.
Akibatnya, harga minyak mentah WTI melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel, bahkan mencapai 113,07 dolar AS per barel pada 6 April.