Adapun faktor utama yang mendorong potensi kenaikan harga BBM adalah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data yang dikutip dari berbagai sumber, harga minyak jenis Brent kini sudah menembus kisaran US$114–116 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$100 per barel.
Padahal, pada awal Maret 2026 harga Brent masih berada di kisaran US$80–90 per barel.
Artinya, dalam waktu kurang dari satu bulan, harga minyak dunia melonjak lebih sekitar 28-42 persen.
Lonjakan ini dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel, yang mengancam jalur distribusi minyak global seperti Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan sedikit saja langsung berdampak besar terhadap harga global.
Harga BBM di Negara Tetangga Sudah Naik
Kenaikan harga BBM sebenarnya sudah lebih dulu terjadi di berbagai negara di Asia Tenggara.
Di Thailand, otoritas setempat sudah menaikan harga BBM nasional sebesar 6 Bath atau setara Rp 3.090.
Alhasil salah satu BBM di Thailand yang hampir mirip Pertalite di Indonesia terpantau mengalami lonjakan fantastis, kini dijual Rp 20 ribuan per liter.
Di Vietnam, harga solar bahkan melonjak lebih dari dua kali lipat sejak akhir Februari 2026, dari sekitar 19.270 dong menjadi 39.660 dong per liter. (Economix)
Bukan cuma itu, Singapura dan beberapa negara lain juga terpantau sudah menaikan harga BBM mereka.
Situasi ini juga mencerminkan bahwa kenaikan harga minyak dunia sangat mempengaruhi harga BBM di sejumlah negara.
Sekarang mari kita tunggu, apakah pemerintah benar-benar akan menaikkan harga BBM di Indonesia, atau masih menahannya sampai batas waktu tertentu?