GridOto.com - Lonjakan harga minyak dunia kembali terjadi seiring memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ketegangan geopolitik tersebut diperparah oleh pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi global.
Situasi ini tentu memicu ketidakpastian di pasar energi setelah Iran menyatakan masih meninjau proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat.
Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level 103 dollar AS per barel.
Kenaikan ini berdampak pada sektor energi di berbagai negara, terutama pada harga bahan bakar minyak (BBM) yang ikut terdongkrak.
Sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara mulai merasakan imbasnya, dengan pemerintah masing-masing melakukan penyesuaian harga BBM seiring meningkatnya tekanan dari harga minyak global.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas energi di kawasan, mengingat sebagian besar negara ASEAN masih bergantung pada impor minyak.
Bahkan harga bensin RON95 (95 oktan) di Singapura tercatat sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara, bahkan menempati posisi keempat tertinggi di dunia, yakni sekitar 2,583 dollar AS per liter atau setara sekitar Rp 43.600 per liter per 16 Maret 2026.
Baca Juga: Mencekam, Filipina, Bangladesh dan Korsel Umumkan Darurat Energi dan Krisis BBM
Sementara itu, Vietnam kembali menyesuaikan harga bahan bakarnya untuk kedua kalinya pada 25 Maret 2026, dikutip Kompas.com dari The Straits Times, Rabu (25/3/2026).