Alasan Generasi Veda Ega Bisa Lebih Kompetitif di Kejuaraan Dunia

Mohammad Nurul Hidayah - Rabu, 25 Maret 2026 | 15:30 WIB

Pembalap Indonesia, Veda Ega Pratama, mengangkat trofi pertamanya di podium setelah finis ketiga dalan balapan Moto3 Brasil 2026 di Sirkuit Ayrton Senna, Brasil, Minggu (22/3/2026).

GridOto.com - Jika dilihat, generasi pembalap muda Indonesia saat ini bisa tampil kompetitif di kejuaraan-kejuaraan level dunia.

Terbaru, Veda Ega Pratama berhasil meraih podium di kejuaraan Moto3 Brasil, dan menjadikannya pembalap Indonesia pertama yang berhasil podium di Grand Prix.

Ini menjadi catatan bagus mengingat generasi sebelumnya yang tampak kesulitan beradaptasi dan kompetitif di level dunia.

Tentu ada banyak faktor yang membuat hal ini bisa terjadi.

Anggono Iriawan, Manager Motorsport PT Astra Honda Motor (AHM) yang mengawal pembalap binaan AHM mulai dari Dimas Ekky, Andi Gilang, Gerry Salim hingga Veda Pratama di balap dunia melihat dari sisi teknis.

Menurut Anggono, pengembangan hardware yang digunakan para pembalap muda dalam meniti karir memiliki peran besar mempercepat proses adaptasi dan menutup ketertinggalan dari pembalap negara lain.

Baca Juga: Komentar Bos Honda Team Asia Saat Ditanya Soal Bakat Veda Ega

"Dulu zamannya Andi Gilang pertama racing school pakainya Honda Blade (motor jenis bebek). Sekarang kan anak-anak ini di Indonesia sudah pakai Honda NSF (motor sport khusus balap)," buka Anggono.

"Jadi hardware (motor) yang digunakan itu hampir sama (dengan yang dipakai kejuaraan dunia). Kalau bicara skill dan talenta, menurut saya di Asia dan Oceania, Indonesia itu paling banyak," tambahnya.

Selain penggunaan motor seperti NSF, motor produksi massal yang digunakan balap di Indonesia juga mulai banyak model motor sport.

Nurul/Gridoto
Anggono Iriawan, Manager Motorsport PT Astra Honda Motor (AHM), sebenarnya Veda bisa menyerang di lap akhir, sayang red flag

Ini juga membantu mengasah kemampuan para pembalap muda Indonesia sebelum berlaga di level lebih tinggi.

"Lalu ada Honda CBR150, CBR250, produk ini kan dulu di 2010, 2011, sampai 2014 tidak ada. Sekarang itu anak-anak sudah naik motor sport. Jadi skill pasti lebih dekat sama pembalap Asia dan Eropa, gap-nya jadi tidak selebar dulu," yakin Anggono.

Dimas Ekky Pratama yang saat ditemui GridOto di kantor IMI (Ikatan Motor Indonesia) Pusat pada Waktu yang berbeda juga punya pandangan.

Baca Juga: Perlu 30 Tahun, Sejarah Panjang Ajang GP Hingga Veda Ega Podium

Menurut Dimas, generasi dirinya seperti menjadi gerbang pembuka jalur bagi pembalap untuk bisa tampil di kejuaraan Eropa dan dunia.

Jadi proses adaptasi yang harus dilakukan menjadi lebih panjang, sembari pihak terkait mencari formula paling tepat untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi pembalapnya.

Berbeda dengan para pembalap muda masa kini di mana jalur untuk menjadi pembalap dunia sudah sangat jelas.

"Sekarang jalur untuk menjadi pembalap dunia sangat terbuka. Sudah ada kejuaraan Asia Talent, Red Bull Rookies lalu JuniorGP. Sangat berbeda dengan zaman saya balap dulu," ungkap Dimas.

Dengan proses pembibitan dan penjenjangan pembalap muda yang semakin matang, semoga akan semakin banyak pembalap Indonesia yang bisa mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional nantinya.

YANG LAINNYA