GridOto.com - Tarif pajak kendaraan di Jawa Tengah nampaknya sudah membuat warganya kecewa.
Alih-alih memanfaatkan diskon 5 persen yang berlaku sejak 20 Februari 2026, ada yang pilih menjual mobilnya.
Potongan 5 persen itu hingga kini nampaknya juga belum berefek signifikan.
Kantor Unit Pengelolaan Pendapatan Daerah (UPPD) Samsat Semarang II tampak masih sepi.
Pihak Samsat menilai, hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat cenderung belum menerima gaji bulanan.
Sementara itu, warga merasa kenaikan opsen sebesar 16,6 persen tidak sebanding dengan diskon yang diberikan.
Dodi (45), pemilik mobil Toyota Avanza mengaku kecewa dengan adanya kenaikan opsen.
Baca Juga: Bungkam Gerakan Stop Bayar Pajak, Diskon Pajak Kendaraan 5 Persen di Jateng Resmi Berlaku
Semula, dia biasa membayar pajak mobilnya senilai Rp 1,4 juta. Namun, kini dia harus membayar hampir Rp 2 juta.
Dodi juga sudah telanjur membayar sebelum diskon berlaku.
Menurutnya, nilai relaksasi 5 persen tak berdampak signifikan untuk meringankan beban pajak mobilnya.
Dodi bahkan berencana menjual mobilnya karena merasa keberatan bila di tahun-tahun berikutnya harus dibebani pajak sebesar itu.
Terlebih, diskon belum tentu ada setiap tahun.
"Mau saya jual saja, ini sudah kelewatan mahal soalnya," ungkap Dodi.
Sementara itu, Herlambang (29), warga lainnya juga menilai diskon 5 persen tidak cukup mengurangi beban, mengingat opsen mencapai 16,6 persen.
Baca Juga: Gerakan Stop Bayar Pajak Kendaraan di Jateng Serius, Gubernur Ahmad Luthfi Didesak Lakukan Ini
Terlebih, ia telah membayar pajak kendaraan motor Honda GL Pro-nya pada Januari 2026 sekitar Rp 160.000.
Angka itu naik dari tahun sebelumnya, sejumlah Rp 100.000.
"Gagap pemerintah itu, banyak keluhan baru kasih diskon. Sosialisasinya kurang sih. Apalagi saya terlanjur bayar kemarin Januari, enggak bisa menikmati diskonnya juga," ungkap Herlambang.
"Motor tua, kena opsennya lumayan, kacau juga sih sebenarnya. Tapi ya gimana lagi, motorku juga buat harian, jadi tetap tak pajaki tahun depan biar aman kalau ke mana-mana," ujar Herlambang.
Sementara itu, Kasi Pajak Samsat II Semarang, Pratisto Nugroho menyebut kondisi yang relatif sepi ini disebabkan banyak masyarakat yang belum menerima gaji bulanan.
"Sebenarnya hari ini (relatif sepi) bukan karena ada boikot. Tapi karena memang tanggal tua, kebiasaan wajib pajak itu kalau tanggal 20 ke atas memang sepi. Ramainya nanti awal bulan," kata Pratisto di kantornya, (24/2/26).
Pratisto optimistis, pada awal bulan nanti kedatangan masyarakat untuk membayar pajak akan meningkat.
Baca Juga: Gerakan Stop Bayar Pajak Kendaraan Warga Jateng Menakutkan, Bisa Berefek Nasional
"Karena baru dimulai Jumat diskonnya, Sabtu kita cuma buka setengah hari, tapi angkanya sampai 1.000 orang (bayar pajak). Tapi menurut saya memang bukan karena diskon, karena sebelum diskon juga sama volumenya. Namun nanti awal bulan, banyak masyarakat sudah gajian, pasti ramai," bebernya.
Dia menambahkan, tahun 2026 ini target penerimaan pajak dipasang sebesar Rp 206 miliar.
Jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan 2025 lalu dengan target Rp 198 miliar.
"Tahun kemarin realisasinya hanya 93 persen, tahun ini, meski ada diskon, kita belum tahu nanti bisa capai berapa, tapi targetnya Rp 206 miliar, naik," paparnya.