“Dalam situasi ketidakpastian seperti ini, konsumen cenderung menunda pembelian sambil menunggu apakah EV masih menarik secara harga dan manfaat,” paparnya.
Urgensi dukungan terhadap kendaraan rendah emisi, lanjut Bebin, semakin penting mengingat sektor transportasi masih menjadi penyumbang utama emisi karbon, diperparah oleh kualitas BBM nasional yang tertinggal dibanding negara-negara Asia Tenggara.
Saat ini, dari lini produk Pertamina, hanya Pertamax Turbo dan Pertamina Dex yang memenuhi standar Euro 4 dengan kadar sulfur di bawah 50 ppm.
Namun, serapan pasar terhadap BBM ramah lingkungan tersebut masih kalah jauh ketimbang produk berharga murah dengan kadar sulfur tinggi.
“Jika pemerintah serius mengejar target NZE, perlu ada kebijakan baru sebagai pengganti insentif sebelumnya. Termasuk membuka ruang lebih besar bagi kendaraan hybrid yang terbukti mampu menghemat BBM sekaligus menekan emisi secara nyata,” paparnya.
Baca Juga: Insentif Kendaraan Listrik Kabarnya Dihentikan Mulai Tahun Depan, Toyota Bilang Begini
Penjualan mobil listrik di Indonesia tumbuh sepanjang tahun 2025.
Data wholesales menunjukkan distribusi pabrik ke dealer mencapai 82.525 unit selama Januari–November 2025 dari total penjualan kendaraan nasional 710.084 unit.
Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik berada di level 11,62 persen. Namun, dari sisi tren bulanan, penjualan mobil listrik mengalami penurunan.