‘Ongkos Jalan’ Bus Listrik Transjakarta Jauh Lebih Murah dari Bus Biasa, Tapi Kok Tetap Dianggap Kemahalan?

Muhammad Rizqi Pradana - Senin, 28 September 2020 | 18:04 WIB

Meskipun bus listrik punya 'ongkos jalan' atau biaya energi yang lebih murah dibandingkan bus konvensional, PT Transjakarta menganggap tarif tersebut masih kemahalan. (Muhammad Rizqi Pradana - )

GridOto.com - PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengatakan bahwa biaya energi untuk mengoperasikan bus listrik atau e Bus lebih murah dibandingkan dengan bus diesel konvensional.

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan pihaknya, Yoga Adiwinarto Direktur Teknik dan Fasilitas Transjakarta, tarif energi bus listrik hanya di kisaran Rp 700 per kilometer.

“Termasuk PPn dan PPJ, biaya energi bus listrik Transjakarta adalah Rp 796 per kWh atau untuk hitungan kami per kilometer,” ujarnya dalam virtual workshop Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) bertajuk Tarif Listrik Electric Vehicle e Bus, Jum’at (25/9/2020).

“Biaya tadi lebih murah dibandingkan biaya energi bus dengan bahan bakar diesel yang bisa mencapai Rp 2.575 per km dan gas yang bisa mencapai Rp 2.067 per km,” imbuhnya,

Baca Juga: Catat! Ada Perubahan Jam Operasional Uji Coba Bus Listrik TransJakarta, Bakal Diperpanjang Mulai Hari Ini

Hitung-hitungan tadi didasarkan pada Tarif Tenaga Listrik (TTL)  di Permen ESDM Nomor 13 Tahun 2020 untuk instalasi listrik privat angkutan umum, SPBKLU, dan SPKLU.

Dalam Permen tadi, ditetapkan bahwa TTL kelompok tersebut adalah bahwa 0,8 ≤ Q≤ 2, di mana Q= Rp707 per kWh dan faktor Q ditetapkan oleh PT PLN (Persero).

Istimewa
Menurut data PT Transjakarta, biaya energi bus listrik jauh lebih murah dibandingkan bus konvensional.

Sekedar informasi, hitungan PT Transjakarta dilakukan dengan faktor Q= 1.

Meskipun memiliki biaya energi yang jauh lebih rendah, Yoga mengatakan bahwa pihaknya ingin TTL tersebut lebih rendah lagi.

Baca Juga: Seluruh Bus Listrik Transjakarta Ditargetkan Rampung Tahun 2030

Alasannya, Total Cost of Operation (TCO) bus listrik tetap lebih tinggi dibandingkan bus konvensional dengan bahan bakar gas maupun diesel.

“Karena biaya investasi bus listrik dan charger ditambah dengan biaya instalasinya mahal, bahkan mencapai 61 persen dari TCO tadi,” jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya ingin agar TTL yang ditetapkan PLN untuk angkutan umum bisa ditekan lebih murah lagi.

“Harga Q-nya sudah bagus, tapi dari kisi-kisi tarif tadi, faktor Q untuk angkutan umum kalau bisa langsung 0,8," ujar Yoga sembari tertawa.

Baca Juga: Kadishub DKI : Jangan Sampai Kendaraan Listrik Hanya Hangat Tahi Ayam

Istimewa
Meskipun punya biaya energi yang lebih murah, ternyata TCO bus listrik lebih mahal dibandingkan bus konvensional.

"Kalau seandainya biaya-biaya seperti biaya instalasi, pajak, termasuk biaya listriknya sendiri bisa turun, maka akan bisa menurunkan TCO ratio itu sendiri," imbuhnya.

PT Transjakarta sendiri menargetkan 50 persen dari total armada mereka di tahun 2025 sudah berupa bus listrik.

Mengingat target armada Transjakarta pada tahun 2025 adalah 8.882 unit bus, maka target armada bus listrik mereka di tahun yang sama adalah 4.441 unit bus listrik.

“Makanya kami berusaha merancang TCO bus listrik yang sustainable, agar nantinya tidak ada balik arah kembali ke bus konvensional setelah bus listrik beroperasi,” pungkasnya.